Rumah Relokasi Korban Banjir Bandung Barat Dibangun dengan Konsep Kampung Adat Sunda

2026-01-15 01:57:50
Rumah Relokasi Korban Banjir Bandung Barat Dibangun dengan Konsep Kampung Adat Sunda
BANDUNG BARAT, - Rumah relokasi korban banjir bandang di Desa Nyalindung, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, mulai dibangun. Rumah itu dibangun dengan konsep kampung adat.Pembangunan rumah-rumah bergaya adat sunda itu menyusul kerusakan puluhan rumah akibat luapan Sungai Cimeta pada Maret 2025.Pemerintah Kabupaten Bandung Barat menyalurkan dana stimulan rehabilitasi rumah bagi warga terdampak, sekaligus menyiapkan relokasi dari bantaran sungai ke lokasi yang dinilai lebih aman secara geologis dan hidrologis.Baca juga: Cegah Kemacetan Jalur Wisata, Operasional Delman di Bandung Dihentikan SementaraBupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail mengatakan, sejak awal kejadian bencana, pemerintah daerah langsung melakukan penanganan darurat bagi warga terdampak banjir bandang.“Sejak awal kejadian, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat bergerak cepat melakukan penanganan darurat. Evakuasi warga dilakukan bersama BPBD, TNI, dan Polri,” ujar Jeje, Kamis .Selain evakuasi, pemerintah juga memenuhi kebutuhan dasar warga hingga kondisi pascabencana berangsur membaik.“Kami melakukan penyaluran bantuan logistik, pendirian posko serta dapur umum, dan pendataan kerugian warga. Alhamdulillah, dalam peristiwa ini tidak terdapat korban jiwa,” kata Jeje.Baca juga: Sah! UMK Kota Bandung 2026 Naik Menjadi Rp 4,7 JutaBadan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Barat mencatat, banjir bandang berdampak pada lebih dari 20 unit rumah di sepanjang bantaran Sungai Cimeta, dengan total 50 kepala keluarga terdampak. Sejumlah rumah mengalami rusak berat dan dinyatakan tidak lagi layak huni.Dari jumlah tersebut, sebanyak 30 kepala keluarga ditetapkan sebagai penerima bantuan stimulan rehabilitasi rumah dengan dua skema relokasi.“Sebanyak 30 kepala keluarga menerima bantuan dengan dua skema, yaitu relokasi terpusat dan relokasi mandiri. Pertama sebanyak 20 KK dalam satu lokasi dan 10 KK secara mandiri,” ungkap Jeje.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Secara medis, luka dapat dibedakan berdasarkan seberapa dalam jaringan tubuh yang rusak.Luka superfisial adalah jenis luka yang hanya mengenai sebagian lapisan kulit, seperti goresan atau lecet. Luka jenis ini biasanya tidak terlalu dalam dan dapat sembuh dalam waktu cepat.“Luka superfisial itu yang terputus kontinuitasnya hanya sebagian lapisan kulit,” kata dr. Heri.Berbeda dengan luka superfisial, luka dalam biasanya menembus lapisan kulit hingga mengenai jaringan otot, bahkan tulang. Kondisi ini dapat menyebabkan perdarahan dan risiko infeksi yang lebih tinggi.Umumnya, luka dalam memerlukan penanganan medis segera karena proses penyembuhannya lebih kompleks dibanding luka ringan.“Kalau dia luka dalam, itu tembus dari kulit bisa sampai ke otot. Bahkan kalau traumanya berat, bisa sampai ke tulang,” lanjut dr. Heri.Baca juga: SHUTTERSTOCK/NONGASIMO Beda jenis luka, beda penyebab dan cara penyembuhannya. Memahami jenis luka penting agar penanganannya tepat, simak penjelasan dokter.Selain dari kedalamannya, luka juga dapat dikategorikan berdasarkan waktu penyembuhannya menjadi luka akut dan kronis.Menurut dr. Heri, luka akut adalah luka yang sembuh melalui proses alami tubuh dan biasanya pulih dalam waktu beberapa minggu.“Luka juga bisa diklasifikasikan menurut waktu sembuhnya, itu menjadi luka yang akut dan luka yang kronis,” ucap dr. Heri.“Luka yang akut itu adalah luka yang sembuh dengan proses alamiah, yang seharusnya dia bisa sembuh sekitar empat sampai delapan minggu,” tambahnya.Ketika penyembuhan tidak berjalan semestinya, kategori luka bisa berubah menjadi luka kronis, artinya luka yang mengalami proses sembuh lebih lama.“Kalau proses sembuhnya mengalami gangguan, dia akan menjadi suatu luka yang kronis, yang bisa sampai berminggu-minggu, berbulan-bulan, sampai bertahun-tahun,” ujar dr. Heri.Faktor yang bisa menyebabkan luka menjadi kronis antara lain infeksi, kekebalan tubuh, hingga penyakit penyerta seperti diabetes.

| 2026-01-15 01:43