JAKARTA, - Bali sering kali diterpa isu jenuh. Mulai dari kemacetan di Canggu, polusi suara, hingga wacana moratorium pembangunan hotel.Namun, jika kita melihat data investasi dan proyeksi pasar hingga 2027, jawaban atas pertanyaan "Masihkah Bali menarik?" adalah sebuah afirmasi yang kuat.Bali tidak hanya menarik, ia sedang berevolusi menjadi pusat gaya hidup ultra-mewah atau ultra-luxury hub di Asia.Baca juga: Terungkap, Pembeli Lahan Jumbo 8 Hektar Milik APLN di BaliLaporan terbaru Colliers menunjukkan adanya kontradiksi menarik: di satu sisi, pasar domestik dan segmen pemerintah mengalami tekanan, namun di sisi lain, merek hotel mewah asing justru "berlomba" menancapkan bendera di tanah para dewa.Tahun 2025 menjadi tahun transisi yang menantang bagi industri perhotelan di Indonesia secara umum.Kebijakan efisiensi pemerintah menyebabkan penurunan signifikan pada pasar pemerintahan.Anggaran yang dipangkas berarti jumlah partisipan dan aktivitas Meeting, Incentive, Convention, Exhibition (MICE) pemerintah mengecil.Baca juga: Bali Terancam Krisis Pangan, Nusron Desak Penyetopan Izin PropertiMeskipun pasar korporat menunjukkan tren peningkatan, volume pertumbuhannya belum mampu menutupi kekosongan yang ditinggalkan sektor pemerintah.Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto, mengatakan, pola ini diprediksi akan berulang hingga Semester 1-2026."Hal ini terutama dengan adanya periode Ramadan pada Kuartal 1 yang secara historis memperlambat aktivitas bisnis," ucap Ferry, dikutip Kompas.com, Selasa .Bali dianggap masih menjadi primadona bagi pasar Australia, India, dan China. Data per Oktober 2025 menunjukkan performa yang kontras antara tamu asing dan domestikWisatawan mancanegara (wiseman) telah mencapai 91 persen dari target pemerintah 6,5 juta orang. Diproyeksikan target ini akan terlampaui pada akhir tahun 2025.Baca juga: BUVA Akan Akuisisi Saham Anak Usaha SMRA di Bali Senilai Rp 175 MiliarSementara wisawatan Nusantara (wisnus) baru mencapai 76 persen dari target 10 juta kunjungan.Mengapa turis domestik lesu? Ferry menuturkan, ada hambatan struktural berupa tingginya harga tiket pesawat domestik dan biaya akomodasi."Akibatnya, wisatawan lokal lebih memilih berlibur ke luar negeri yang secara total biaya seringkali lebih kompetitif dibandingkan ke Bali," cetusnya.
(prf/ega)
Masih Menarikkah Bali? Faktanya Hotel Mewah Global Dominan hingga 2027
2026-01-12 04:12:35
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 04:35
| 2026-01-12 04:30
| 2026-01-12 03:34
| 2026-01-12 03:06
| 2026-01-12 02:36










































