Atasi Kerusakan Lingkungan, Menag: Konsep Dosa atau Pahala Lebih Efektif

2026-01-13 00:24:34
Atasi Kerusakan Lingkungan, Menag: Konsep Dosa atau Pahala Lebih Efektif
SEMARANG, – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mendorong agar isu kerusakan lingkungan disampaikan melalui pendekatan teoekologi, yakni pendekatan teologis dalam membahas ekologi, dengan menggunakan bahasa agama.Dia menilai, cara tersebut lebih efektif dalam mengajak masyarakat memahami dan menjaga lingkungan.Nasaruddin mengungkapkan bahwa konsep teoekologi telah ia kenalkan sejak awal dirinya menjabat sebagai Menteri Agama.“Saya melihat bahwa problem besar bangsa bahkan dunia di masa depan adalah problem lingkungan hidup. Nah, tidak mungkin bisa melakukan pemeliharaan lingkungan hidup dengan menggunakan bahasa politik, bahasa birokrasi. Tapi yang paling efektif itu adalah menggunakan bahasa agama,” ucapnya saat diwawancara di Kantor Wilayah Kemenag Jawa Tengah, Senin sore.Ia menjelaskan bahwa doktrin agama cenderung lebih mudah diterima masyarakat ketika dikaitkan dengan isu lingkungan.Nilai pahala dan dosa dapat menjadi instrumen kuat untuk membangun kesadaran kolektif.“Misalnya, kita dapat pahala kalau merawat lingkungan dan berdosa kalau kita merusak lingkungan. Jadi kalau konsep dosa/pahala ini dipakai untuk memelihara lingkungan, itu akan lebih efektif daripada bahasa-bahasa hukum,” jelasnya.Baca juga: Sultan HB X Minta Data Mahasiswa Asal Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara ke Perguruan TinggiPadahal, lanjut Menag, regulasi terkait perusakan lingkungan hidup sudah tersedia, tetapi pelanggaran tetap terjadi.“Tapi kalau agama yang memberikan teguran, ‘Ini dosa loh kalau kita melakukan seperti ini’. Inilah pentingnya menggunakan bahasa agama dalam rangka memelihara lingkungan hidup,” ujarnya.Di hadapan para pegawai Kanwil Kemenag Jawa Tengah, Nasaruddin juga memaparkan konsep makrokosmos.Langit dan bumi digambarkan sebagai pasangan yang melahirkan makhluk hidup, sehingga alam seharusnya tidak diperlakukan hanya sebagai objek.“Maka itu, merusak tanaman, merusak lingkungan, atau melakukan pembiaran terhadap musnahnya, apalagi dengan sengaja membakar, tentu bapak kandungnya marah, ibu kandungnya marah. Dalam hal ini kita perlu belajar pada tradisi ini. Tidak boleh sembarangan menebang,” tuturnya.Terkait bencana banjir dan longsor yang terjadi di Sumatera, Nasaruddin menyebut bahwa sejumlah fasilitas keagamaan dan madrasah mengalami kerusakan.Kementerian Agama telah menyalurkan bantuan secara bertahap.Ia memastikan pemerintah akan membantu pemulihan madrasah yang terdampak sesuai kemampuan anggaran yang tersedia. 


(prf/ega)