Polres Lumajang Tembak Mati Pelaku Curanmor: Sudah Keluarkan 2 Kali Tembakan Peringatan

2026-02-04 03:36:42
Polres Lumajang Tembak Mati Pelaku Curanmor: Sudah Keluarkan 2 Kali Tembakan Peringatan
LUMAJANG, - Agus Sulaiman (30), warga Desa Wonoayu, Kecamatan Ranuyoso, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, tewas saat hendak diamankan polisi.Agus, merupakan salah satu pelaku pembacokan terhadap anggota Polsek Ranuysoso Aiptu Kurniawan, saat hendak diamankan pada Kamis karena kedapatan mau mencuri motor warga.Saat itu, Agus sempat melarikan diri usai membacok Aiptu Kurniawan di bagian perut, tangan, hingga kepala.Baca juga: Begal Pembacok Polisi di Lumajang Ditembak Mati Polda JatimKapolres Lumajang AKBP Alex Sandy Siregar mengatakan, tersangka Agus diamankan polisi di Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, pada Senin dini hari.Kala itu, Agus didapati sedang berboncengan dengan temannya dan langsung diadang oleh petugas sampai terjatuh.Bukannya menyerahkan diri, Agus malah menyerang petugas menggunakan senjata tajam."Polres Lumajang bersama Jatanras Polda Jatim melakukan penyelidikan terhadap tersangka AS yang sempat melakukan pembacokan terhadap anggota kami hingga mengalami luka berat dan akhirnya berhasil dibekuk di Pasuruan," kata Alex, Senin .Baca juga: Banjir Lahar Semeru, Batu Besar Tutupi Jembatan Limpas, Akses 3 Dusun di Lumajang TerputusMenurut Alex, sebelum melumpuhkan tersangka, polisi sempat mengeluarkan tembakan peringatan agar Agus menyerahkan diri.Namun, saat itu Agus terus melakukan penyerangan terhadap petugas kepolisian.Akhirnya, polisi terpaksa melumpuhkan Agus dengan 2 kali tembakan."Tembakan peringatan tidak dihiraukan oleh tersangka, akhirnya petugas melakukan tembakan dan sempat dilarikan ke rumah sakit tapi nyawanya tidak dapat tertolong dan meninggal dunia," jelas Alex.Alex menerangkan, saat ini beberapa barang bukti seperti senjata tajam yang digunakan Agus menyerang polisi saat ditangkap di Pasuruan, sudah diamankan di Polda Jawa Timur."Barang bukti sebagian ada disini dan ada juga yang di Polda berupa senjata tajam yang digunakan pelaku menyerang anggota sesaat sebelum dilumpuhkan," terangnya.Baca juga: Infrastruktur di Lumajang yang Rusak akibat Banjir Lahar Diperbaiki dengan Skema PatunganSebelumnya, Polres Lumajang terlebih dulu mengamankan Muhammad Hasan warga Desa Ranuyoso, Kecamatan Ranuyoso, yang turut bersama Agus melakukan pencurian dan pembacokan terhadap anggota polisi di Lumajang.Muhammad Hasan kini harus mempertanggung jawabkan perbuatanya dan dijerat dengan 4 pasal berlapis.Mulai dari Pasal 363 tentang tindak pidana pencurian dengan pemberatan, Pasal 351 tentang penganiayaan, Pasal 212 KUHP tentang tindakan perlawanan dengan kekerasan terhadap petugas."Ancaman hukumannya maksimal 7 tahun penjara," pungkasnya.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-04 03:26