JAKARTA, - Likuiditas perbankan nasional berada di posisi sangat longgar. Sejumlah indikator menunjukkan ruang ekspansi kredit masih besar, terlihat dari turunnya loan to deposit ratio atau LDR.Rasio kredit terhadap dana pihak ketiga berada di kisaran 84 persen. Angka ini jauh di bawah batas regulasi OJK dan Bank Indonesia yang menetapkan ambang 92 persen.Ketua Umum Perbanas, Hery Gunardi, menilai kondisi itu menggambarkan cadangan dana bank berada di level aman.“Satu sisi kita lihat di tahun 2025 ini, di sisi likuiditas perbankan berada di posisi yang sangat likuid. Itu ditandai dari mana? Ditandai dari LDR,” ujar Hery saat konferensi pers CEO Forum Economic Outlook 2026, Jakarta Selatan, Rabu .“LDR perbankan itu terus turun padahal regulasi yang ditetapkan oleh OJK dan Bank Indonesia adalah di bawah 92 persen sebenarnya, di bawah itu sangat jauh, kita angkanya secara industri sekitar 84 persen. Artinya apa? Bank punya uang, bank punya likuiditas untuk ekspansi,” sambung dia.Baca juga: Likuiditas Pasar Lemah, OJK Ungkap Free Float RI Jadi yang Terendah di KawasanKelonggaran likuiditas tumbuh dari kebijakan pro-growth pemerintah dan BI. Relaksasi giro wajib minimum yang berlaku sejak awal 2025 memberi tambahan ruang gerak bank.Keputusan BI menurunkan suku bunga acuan pada September 2025 ikut memperkuat arah kebijakan itu.BI Rate dipangkas 25 basis poin ke 4,75 persen melalui RDG 19–20 Agustus 2025. Pemangkasan terjadi tiga kali sejak Juli.Instrumen pro-growth bertujuan menjaga likuiditas, menurunkan biaya dana, dan mendorong penyaluran kredit.“Nah itu terjadi kenapa? Karena memang kita lihat belakangan ini pemerintah dan juga Bank Indonesia sangat aktif gitu. Kita namakan pro-growth, BI juga sudah menjalankan beberapa policy yang pada dasarnya pro-growth itu antara lain adalah gimana memberikan relaksasi dari sisi GWM. Kemudian yang kedua adalah suku bunga juga terus dijaga di angka yang terus menurun,” ujar Hery.Instrumen SRBI juga tidak lagi memberi tekanan seperti pada 2023. Yield tinggi SRBI sempat bersaing dengan deposito. Likuiditas longgar membuat biaya dana bank menurun dibanding tahun lalu.“Dan yang ketiga kalau kita lihat di tahun 2023 yang lalu, Bank Indonesia itu punya instrument namanya SRBI, pada saat itu memang yield-nya sangat tinggi dan menjadi pesaingnya, depositonya perbankan,” kata Hery.“Tapi hari ini kita melihat dengan likuiditas yang longgar ini, bank-bank sudah mulai bisa menekan cost of fundnya dan lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu. Nah, di sisi lain memang kita melihat juga bahwa kondisi dari undisbursed loan itu masih tinggi,” lanjutnya.Baca juga: BI Tambah Insentif Likuiditas Jadi Rp 423 Triliun Mulai Desember 2025, Ini TujuannyaKredit belum terserap optimal. Banyak debitur menunda pencairan karena menunggu kondisi usaha membaik.Daya beli rumah tangga berpenghasilan menengah ke bawah juga belum pulih penuh sehingga permintaan kredit konsumsi tetap rendah. Perbanas berharap permintaan kredit membaik pada 2026.
(prf/ega)
Likuiditas Melimpah tapi Kredit Seret, Perbanas: Pengusaha Wait and See
2026-01-11 23:09:13
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 23:10
| 2026-01-11 22:54
| 2026-01-11 22:51
| 2026-01-11 20:58










































