Kisah Nenek dan Toko Roti: Jangan Lupakan Esensi Melayani Manusia

2026-02-03 09:25:03
Kisah Nenek dan Toko Roti: Jangan Lupakan Esensi Melayani Manusia
BEBERAPA waktu lalu, publik dihebohkan kejadian viral terkait penolakan pembayaran tunai oleh pelanggan yang dilakukan salah satu gerai toko roti ternama.Penolakan ini terjadi karena sang toko roti menerapkan pembayaran non-tunai atau cashless dengan mengandalkan pembayaran berbasis QRIS (Quick Respond Code Indonesian Standard).Program pembayaran digital yang dikomandoi oleh Bank Indonesia tersebut digadang-gadang akan menjadi game changer di dunia transaksi keuangan.Harapannya, pelanggan dan penjual tak bersusah payah lagi mencari uang receh untuk pembayaran ataupun kembalian, sehingga transaksi lebih mudah, cepat, dan efisien.Namun, penetapan pembayaran non-tunai ini ternyata tidak serta-merta bisa diikuti oleh semua orang.Literasi digital dan kemampuan tiap manusia yang beragam turut menjadi tantangan ketika kebijakan pembayaran non tunai berbasis QRIS tersebut dilakukan.Alih-alih memudahkan, ternyata kebijakan ini bisa berbuntut panjang karena pegawai di toko roti tersebut menolak pembayaran tunai seorang nenek.Padahal, mungkin saja beliau sedang lapar dan ingin menikmati sepotong roti demi mengganjal perut dalam perjalanan.Baca juga: Korupsi Dana Bencana dan Pengkhianatan Nilai KemanusiaanKemajuan pembayaran teknologi digital tersebut harusnya bersifat inklusif, bukan ekslusif. Meniadakan pembayaran tunai karena alasan digitalisasi adalah salah kaprah strategi.Konsumen harus diberikan pilihan, bukan hanya ikut aturan perusahaan. Apalagi ini terkait transaksi dengan mata uang resmi yang masih diakui dan dilindungi negara.Tentu saja kita menyadari bahwa uang rupiah merupakan alat pembayaran resmi yang didukung oundang-undang. Bahkan, pihak yang menolak pembayaran transaksi dengan rupiah bisa diancam dengan hukum pidana.Namun, dari kejadian ini kita bisa pelajari, realitas pembayaran rupiah tersebut dihadang tembok kebijakan internal perusahaan yang disebut dengan adopsi teknologi.Padahal seharusnya, kebijakan internal perusahaan tak boleh lebih kuat dibanding undang-undang yang sah dan berlaku wajib bagi seluruh warga negara, termasuk pelaku bisnis.Praktik seperti ini menggelitik kita untuk kembali menelaah, apakah kebijakan teknologi pembayaran tersebut sudah tepat sasaran?Padahal, Sang Nenek ingin bayar tunai, karena di tangannya ada uang rupiah yang resmi sebagai alat tukar dalam berbagai transaksi di negeri ini.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Selain kecepatan internet mobile, DataReportal x Ookla ini juga mengungkap kecepatan internet kabel (fixed broadband) di Indonesia.Adapun median download speed internet kabel di Indonesia kini tercatat di 39,88 Mbps, naik 24,4 persen dari tahun lalu.Sementara median upload kini tercatat di angka 26,61 Mbps (naik 37,4 persen) dan latensi di angka 7 ms (turun 12,5 persen).Perlu dicatat, laporan ini menggunakan pengukuran median. Ini merujuk pada kecepatan rata-rata tengah ketika pengguna mengunduh data dari internet ke perangkat.Berbeda dengan rata-rata biasa (mean) yang bisa dipengaruhi oleh hasil pengukuran ekstrem, median menunjukkan angka tengah dari seluruh tes kecepatan.Artinya, setengah pengguna di Indonesia mendapatkan kecepatan unduh di bawah 45,01 Mbps, dan setengahnya lagi di atas angka tersebut, ketika menggunakan data seluler. Dengan cara ini, data dianggap lebih merepresentasikan pengalaman nyata pengguna sehari-hari.speedtest Dalam kategori internet seluler, Bekasi menempati posisi ke -118 (dari 148 kota) secara global, sekaligus menjadi yang tertinggi di Indonesia dengan kecepatan unduh (download speed) median 54,59 MbpsDalam laporan Ookla yang dipublikasi secara terpisah, Bekasi dan Jakarta Selatan (Jaksel) tercatat sebagai kota dengan internet tercepat di Indonesia, kecepatannya tembus di atas 50 Mbps untuk data seluler.Baca juga: Kecepatan Internet Indonesia Meningkat 10 Kali Lipat sejak 2014Laporan Speedtest merinci, dalam kategori internet seluler, Bekasi punya nilai tengah download speed 54,59 Mbps. Sementara Jaksel dengan 52,29 Mbps.Selain itu, Speedtest juga mengukur angka tengah kecepatan unggah (upload speed) dan latensi.Menurut laporan Speedtest, Bekasi punya kecepatan unggah 21,05 Mbps dan latensi 18 ms. Sementara, Jaksel punya kecepatan unggah 17,84 Mbps dan latensi 20 ms.Capaian ini menjadikan keduanya sebagai representasi kota dengan internet tercepat di Indonesia, meski secara global posisinya masih di papan bawah.

| 2026-02-03 07:19