Malam Panjang Bidan Fetri, Tangani Puluhan Korban Banjir Bandang di Puskesmas Koto Alam

2026-01-11 21:12:36
Malam Panjang Bidan Fetri, Tangani Puluhan Korban Banjir Bandang di Puskesmas Koto Alam
- Arus korban banjir bandang atau galodo di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, terus berdatangan ke Puskesmas Koto Alam pada malam kejadian, Rabu .Warga membawa pasien luka-luka hingga jenazah korban yang berhasil dievakuasi dari lokasi terdampak banjir bandang.Seluruh korban ditangani oleh Bidan Fetri Yuherna (52), yang bertugas sejak sore hingga dini hari.Lonjakan pasien terjadi sangat cepat, membuat ruang IGD dan rawat inap tidak lagi mampu menampung korban tambahan.Akibat kondisi darurat itu, petugas terpaksa memindahkan pasien ke lantai puskesmas.Baca juga: 93 Sekolah di Agam Masih Diliburkan karena Terdampak BanjirAlas tikar dan kain seadanya digunakan untuk penanganan awal. Beberapa pasien bahkan harus menunggu tindakan medis di lorong dan halaman puskesmas.Pasca-banjir bandang dahsyat yang melanda Salareh Aie, Palembayan, puluhan pasien terus berdatangan. Mereka datang dengan kondisi luka berat, patah tulang, tubuh bergelimang lumpur, wajah pucat, hingga tak sedikit yang sudah meninggal dunia.Seluruh perubahan drastis itu disaksikan langsung oleh Fetri, yang malam itu berbagi jadwal piket dengan Husma (39), seorang perawat yang bertugas sejak pukul 13.30 WIB hingga 20.30 WIB.Keduanya menjadi garda terdepan penanganan korban banjir bandang Agam.Sekitar pukul 17.00 WIB, sebelum banjir bandang terjadi, Fetri menerima panggilan telepon dari seorang pasiennya yang tinggal di Jorong Alahan Anggang, dekat Subarang Aie.“Bu, saya lihat ada gelondongan kayu besar, ada kejadian ya, Bu?” tanya pasien tersebut dengan nada ragu.Saat itu, Fetri mencoba menenangkan pasien dan menyampaikan bahwa kondisi masih aman. Namun, hanya berselang beberapa menit, suasana di Puskesmas mulai berubah.Dari kejauhan, Fetri mendengar bunyi gemuruh yang semakin membesar. Nalurinya mendorongnya menuju bagian belakang puskesmas yang menghadap alur sungai.Ia menyaksikan kayu gelondongan dan bebatuan besar meluncur deras, terbawa arus sungai berwarna cokelat pekat.Baca juga: Susu Bayi hingga Selimut Dikirim dari Bangka untuk Korban Banjir di Padang dan AgamEmpat hingga lima menit setelah panggilan telepon itu, kepanikan pecah. Pasien rawat inap mulai cemas. Fetri dan rekannya berusaha menenangkan mereka.


(prf/ega)