Polisi Selidiki Warga Baduy Dibegal di Jakpus hingga Madu dan Uang Raib

2026-01-14 10:22:07
Polisi Selidiki Warga Baduy Dibegal di Jakpus hingga Madu dan Uang Raib
Seorang warga Baduy Dalam bernama Repan menjadi korban pencurian dengan kekerasan di kawasan Rawasari, Kecamatan Cempaka Putih, Jakarta Pusat (Jakpus), hingga kehilangan uang Rp 3 juta dan 10 botol madu dagangannya. Pihak kepolisian telah menerima laporan korban dan mengecek ke lokasi kejadian."Hari Minggu korban sudah membuat LP (laporan polisi), kemudian Unit Reskrim Polsek Cempaka Putih melaksanakan cek TKP (tempat kejadian perkara)," kata Kasi Humas Polres Metro Jakarta Pusat Iptu Ruslan Basuki, Selasa .Saat ini, polisi masih melakukan penyelidikan terkait kejadian itu. Polisi juga masih melakukan pencarian terhadap pelaku tersebut."Saat proses masih dalam penyelidikan. Perkembangan selanjutnya akan disampaikan," ungkapnya.Sebelumnya diberitakan, berdasarkan laporan polisi yang diterima detikcom, peristiwa ini terjadi pada Minggu saat korban sedang berjualan madu dan aksesori khas Baduy. Namun saat itu ada empat orang yang mengendarai sepeda motor dan membawa senjata tajam tiba-tiba menghadang korban."Empat orang laki-laki tidak dikenal langsung mengambil paksa tas yang berisikan barang-barang," tulis laporan polisi (LP) dikutip detikcom, Senin .Akibat kejadian itu, Repan kehilangan uang sebesar Rp 3 juta dan 10 botol madu. Tak hanya itu, Repan juga mengalami luka di bagian tangan kiri."Terlapor langsung mengeluarkan senjata tajam dan menyerang pelapor mengenai lengan kiri," tulis dalam LP.Dihubungi terpisah, Kepala Desa Kanekes, Oom, membenarkan bahwa Repan merupakan warga adat Baduy Dalam. Oom mengatakan sudah melaporkan peristiwa pencurian itu ke Polsek Cempaka Putih."Laporan sudah diterima, dan saat ini tengah ditangani oleh unit Reskrim Polsek Cempaka Putih," kata Oom.Lihat juga Video: Driver Ojol Jadi Korban Begal di Malang, Motor Raib Dibawa Kabur[Gambas:Video 20detik]


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

di sela acara peluncuran AI Innovation Hub di Institut Teknologi Bandung, Bandung, Jawa Barat, Selasa .Baca juga: Telkomsel Resmikan AI Innovation Hub di ITB, Perkuat Pengembangan AI NasionalDalam menyikapi AI Bubble, salah satu langkah konkret yang dilakukan Telkomsel adalah tidak gegabah melakukan investasi besar pada infrastruktur AI, seperti pembelian perangkat komputasi mahal, tanpa perhitungan pengembalian yang jelas.Menurut Nugroho, perkembangan teknologi AI sangat cepat, sehingga investasi perangkat keras yang dilakukan terlalu dini berisiko menjadi tidak relevan dalam waktu singkat.“Kalau kami investasi terlalu besar di awal, tapi teknologinya cepat berubah, maka pengembalian investasi (return on investment/ROI) akan sulit tercapai,” ungkap Nugie.Sebagai gantinya, Telkomsel memilih pendekatan yang lebih terukur, antara lain melalui kolaborasi dengan mitra, pemanfaatan komputasi awan (cloud), serta implementasi AI berbasis kebutuhan nyata (use case driven).Baca juga: Paket Siaga Peduli Telkomsel, Internet Gratis untuk Korban Bencana di SumateraWalaupun ancaman risiko AI Bubble nyata, Telkomsel menegaskan bahwa AI bukan teknologi yang bisa dihindari. Tantangannya bukan memilih antara AI atau tidak, melainkan mengadopsi AI secara matang dan berkelanjutan.“Bukan berarti karena ada potensi bubble lalu AI tidak dibutuhkan. AI tetap penting, tapi harus diadopsi dengan perhitungan yang matang,” tutur Nugroho.Selain mengungkap sikap perusahaan soal AI Bubble, Nugroho juga menggambarkan fenomena adopsi alias tren AI di Indonesia.Nugroho menilai adopsi AI di sini relatif lebih terukur dibandingkan fase teknologi baru sebelumnya.Pengalaman pahit pada era startup bubble, menurut dia, membuat pelaku industri kini lebih berhati-hati dalam berinvestasi, terutama dengan maraknya AI.

| 2026-01-14 10:07