Baru 2 Bandara Pakai BTT Listrik, Kemenhub Siapkan Revisi Standar Nasional

2026-01-14 06:15:52
Baru 2 Bandara Pakai BTT Listrik, Kemenhub Siapkan Revisi Standar Nasional
JAKARTA, - Peralihan dari baggage towing tractor (BTT) diesel ke BTT listrik menjadi langkah penting untuk meningkatkan efisiensi energi dan mendukung aksi mitigasi krisis iklim di sektor transportasi udara.Untuk mempercepat transisi tersebut, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) berencana merevisi ketentuan standarisasi BTT dalam Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara (KP Dirjen Hubud) Nomor 635 Tahun 2015. Aturan yang berlaku saat ini masih berfokus pada standar BTT diesel berbahan bakar minyak."Justru itu kami sedang menyiapkan perubahan terkait dengan standarisasi peralatan ini, yang mana dengan kerangka acuan tadi bisa secara menyeluruh. Misalnya, terkait bilamana terjadi emergency, untuk pemadaman api akibat kebakaran dari aki baterainya ini seperti apa, ini akan menjadi bagian dari kita melengkapi daripada aturan untuk implementasi dari BTT elektrik ini," ujar Kepala Sub Direktorat Sistem Penyelenggaraan dan Pengusahaan Bandar Udara, Kementerian Perhubungan, Cece Tarya, dalam webinar, Rabu .Baca juga: BRIN: Peralihan ke BTT Listrik Pangkas Emisi Bandara hingga 31 PersenTerkait potensi limbah baterai seiring meningkatnya penggunaan BTT listrik, Kemenhub menegaskan bahwa tanggung jawab penanganan tetap dibebankan kepada operator bandara. Pengelola bandara dapat bekerja sama dengan pihak ketiga untuk mengelola limbah B3 sesuai standar nasional."Sehingga, dalam hal ini, ketentuan BTT listriknya belum menjadi detail, tetapi sudah tersuratkan di dalam KP Dirjen Hubud 635," tutur Cece.Selain transisi ke BTT listrik, upaya mitigasi krisis iklim di sektor udara juga mencakup pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT). Penggunaan biofuel pada pesawat serta pemasangan PLTS untuk penerangan dan prasarana transportasi menjadi bagian dari strategi Kemenhub.Langkah lainnya adalah penghijauan di sekitar bandar udara melalui penanaman pohon yang dipilih secara selektif."Ini selektif jenis pohon yang ditanamnya, untuk bagaimana supaya tidak mengundang ekosistem burung yang bisa berdampak terhadap (operasional) bandara nantinya," ucapnya.Sebelumnya, Peneliti Pusat Riset Teknologi Transportasi BRIN, Mohamad Ivan Aji Saputro, mengungkapkan bahwa dari total 683 bandara di Indonesia, baru dua yang menggunakan BTT listrik, yakni Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) dan Bandara I Gusti Ngurah Rai."BTT listrik saat ini digunakan hanya di bandara-bandara besar. Temuan kami di lapangan bandara-bandara lain masih menggunakan BTT jenis diesel," ujar Ivan.Baca juga: Emisi 20 Bandara Setara 58 PLTU Batu Bara pada 2019


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 12 Tahun 2025 yang mengatur Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang ditanggung pemerintah untuk kendaraan listrik tertentu.Namun, penghentian insentif diprediksi membuat penjualan BEV pada tahun depan melambat.“Tentu itu akan merubah penjualan mobil listrik, apalagi saat ini kondisi ekonomi kita masih menantang. Penggerak roda industri otomotif kan pada middle income class,” ujar Yannes saat ditemui belum lama ini.Meski begitu, Yannes menekankan bahwa pasar kendaraan elektrifikasi secara keseluruhan belum tentu melemah.“Total segmentasi BEV kemungkinan akan melambat, tetapi pertumbuhan kelak akan digerakkan BEV rakitan lokal ya,” lanjutnya.Meski begitu, Yannes menilai pasar kendaraan elektrifikasi secara keseluruhan belum tentu melemah. Segmen hybrid electric vehicle (HEV) diperkirakan akan tumbuh, karena menawarkan kombinasi efisiensi bahan bakar tanpa kekhawatiran jarak tempuh.“Segmentasi HEV akan sangat subur, karena konsumen rasional akan memilih HEV sebagai safe haven. Efisiensi BBM ada, range anxiety nol,” ujar Yannes.Ia menambahkan, untuk menjaga momentum pertumbuhan kendaraan listrik, peran kelas menengah menjadi kunci.“PR kita pertama adalah menaikkan middle income class kita. Ekonomi tolong buktikan bisa tembus 5,4 persen tahun ini dan 6 persen di tahun depan,” kata Yannes.Baca juga: Mobil Listrik Indonesia: BYD Dominasi, Jaecoo dan Wuling Bersaing/Adityo Wisnu Mobil hybrid Rp 300 jutaan“Dan janji di 2029 tercapai, yaitu 8 persen. Itu baru kita bisa belanja dengan enak lagi,” tutupnya.Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil berbasis baterai sepanjang 2025 mencatat pertumbuhan signifikan.Dari Januari hingga November 2025, wholesales BEV telah mencapai 82.525 unit, naik 113 persen dibanding periode sama tahun lalu.Segmen PHEV juga mencatat lonjakan luar biasa, meningkat 3.217 persen menjadi 4.312 unit, sementara mobil hybrid mengalami pertumbuhan 6 persen, dari 53.986 unit pada periode sama tahun lalu menjadi 57.311 unit.

| 2026-01-14 06:06