Usai IPO, Bos Superbank Yakin Prospek Jangka Panjang Cerah

2026-01-12 05:11:38
Usai IPO, Bos Superbank Yakin Prospek Jangka Panjang Cerah
JAKARTA, - PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) atau Superbank menatap masa depan bisnisnya dengan sikap optimisme, usai resmi mencatatkan saham perdana (Initial Public Offering/IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu . Sikap itu didorong oleh peluang pertumbuhan perbankan digital di Indonesia yang kini belum banyak tergarap. Presiden Direktur Superbank, Tigor M. Siahaan, mengatakan pangsa pasar bank digital di Tanah Air masih sangat kecil saat ini. Dari total industri perbankan nasional, market share bank digital diperkirakan baru menyentuh 1 persen. Kondisi tersebut justru membuka ruang pertumbuhan bagi Superbank. “Ya kami merasa dari segi market potensinya masih banyak sekali karena seperti saya katakan tadi, mungkin market share dari seluruh bank digital di Indonesia itu mungkin paling 1 persen,” ujar Tigor saat ditemui di gedung Bursa Efek Indonesia. Baca juga: Hari Pertama IPO, Superbank (SUPA) Ungkap Cara Menjaga Kinerja Usai Euforia Pasar Optimisme juga diperkuat oleh perubahan perilaku masyarakat yang semakin mengandalkan layanan digital dalam aktivitas sehari-hari. Menurutnya hampir seluruh lapisan masyarakat terbiasa menggunakan produk digital seperti ponsel pintar, sehingga layanan perbankan yang mudah, transparan, dan aman menjadi kebutuhan utama. “Jadi kami merasa poolnya masih sangat besar. Dan juga kalau kita bisa melihat bahwa masyarakat sekarang semuanya pakai digital. Ini semua handphone semua nih,” paparnya. Tigor menilai prospek Superbank tidak hanya menjanjikan dalam jangka pendek, tetapi juga untuk jangka menengah hingga panjang. Ia mencatat perseroan tidak membangun bisnis hanya untuk satu atau dua tahun ke depan saja, tetapi juga jangka panjang dalam rentang tiga, lima, hingga 20 tahun ke depan. Baca juga: 12 Perusahaan Berpotensi IPO di 2026, Begini Proyeksinya Lebih jauh, struktur demografi dan kondisi industri keuangan nasional turut menjadi pendorong optimisme. Dengan jumlah penduduk sekitar 280 juta jiwa, tingkat penetrasi kredit di Indonesia masih relatif rendah dibandingkan negara lain. “Credit penetration di Indonesia ini mungkin sekitar 30-35 persen. Di negara-negara lain sudah lebih dari 100 persen. Jadi penetrasi dari akses terhadap kredit itu masih sangat lacking,” kata Tigor. Situasi ini membuka peluang bagi Superbank untuk memperluas inklusi keuangan, khususnya dengan menghadirkan layanan perbankan yang lebih mudah diakses dan aman bagi masyarakat, yang selama ini belum tersentuh layanan perbankan formal. “Jadi kami merasa di situ kami juga bisa memberikan peran untuk inklusi keuangan, untuk inklusi layanan perbankan dengan cara yang mudah dan aman,” lanjutnya. Baca juga: Modal Inti Tembus Rp 8 Triliun, Superbank (SUPA) Masuk KBMI 2 Saat IPO


(prf/ega)