JAKARTA, - Jakarta kerap digambarkan sebagai kota dengan ritme cepat, ruang luas, dan peluang tanpa batas.Di banyak sudutnya, pembangunan terus meninggi, menandai laju pertumbuhan ekonomi dan urbanisasi yang nyaris tak pernah berhenti.Gedung bertingkat, jalan layang, serta kawasan hunian modern menjadi wajah yang paling sering diperlihatkan kepada publik.Namun, di sela-sela pembangunan itu, ada ruang sempit dan hidup tanpa cahaya matahari dan sirkulasi udara.Lorong-lorong sempit itu tidak berada di pinggiran kota, melainkan di jantung Jakarta.Baca juga: Kisah Minah Hidup di Rumah Sepetak dan Gang Gelap JakartaTepatnya di Kampung Rawa, Johar Baru, Jakarta Pusat, gang-gang sempit menjadi bagian dari keseharian warga.Lebarnya tak sampai satu meter, diapit rumah-rumah petak yang saling berhimpitan.Bangunan tumbuh ke atas, menutup celah cahaya yang dulu masih bisa masuk.Siang dan malam di lorong itu tak lagi dibedakan oleh terang matahari, melainkan oleh nyala lampu.Salah satu rumah petak berukuran 3x4 berada jauh di dalam gang, di antara bangunan lain yang kini telah menjulang hingga tiga lantai.Rumah tersebut ditempati Minah (54), seorang perempuan yang hampir seluruh hidupnya dihabiskan di lingkungan itu./HAFIZH WAHYU DARMAWAN Potret suasana rumah warga di dalam gang sempit di RT 07 RW 02 Kampung Rawa, Kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat Ia bukan pendatang, melainkan warga lama yang menyaksikan perubahan kawasan dari waktu ke waktu.Gang yang kini gelap dan lembap dulunya masih memberi sedikit cahaya alami.Seiring rumah-rumah di sekitar ditinggikan, cahaya matahari perlahan menghilang dari rumah Minah.Baca juga: Jatuh Bangun Anak Fatherless Mengejar Mimpi: Berjuang Sendiri, Tanpa Apresiasi Dinding tetangga menjadi penghalang di sisi kiri, kanan, dan atas.Satu-satunya cara menjaga rumah tetap terang adalah dengan lampu listrik yang menyala tanpa henti.Kondisi ini bukan pilihan, melainkan keharusan. Tanpa lampu, rumah akan langsung berubah gelap, bahkan di siang hari.Cahaya alami tak lagi mampu menembus celah sempit di antara bangunan."Nyala 24 jam, kalau dimatiin gelap kayak goa sebab kan ini kehalang sama tembok," kata Minah saat ditemui, Jumat ."Di atas juga kehalang sama tembok. Ini kan tadinya nggak tinggi, jadi masih ada sinar matahari. Sekarang udah tinggiin semua," ungkapnya.Minimnya cahaya juga memengaruhi kondisi udara di dalam rumah. Ruang terasa lembap saat hujan dan panas ketika cuaca terik.Namun, bagi Minah, kondisi itu sudah menjadi bagian dari keseharian."Ya begini aja udaranya. Kalau hujan lembap, kalau misalnya panas ya udaranya agak panas. Agak panas sedikit," katanya.Keterbatasan cahaya matahari berdampak langsung pada aktivitas rumah tangga.Menjemur pakaian menjadi pekerjaan yang membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan kawasan lain.
(prf/ega)
Potret Kehidupan Warga Kampung Rawa Tanpa Cahaya Matahari
2026-01-12 05:14:08
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 04:19
| 2026-01-12 03:12
| 2026-01-12 02:53
| 2026-01-12 02:47










































