Kenapa Gerobak Mi Ayam Berwarna Biru? Ini Asal-usul dan Perbedaannya

2026-01-16 17:26:52
Kenapa Gerobak Mi Ayam Berwarna Biru? Ini Asal-usul dan Perbedaannya
- Mi ayam adalah salah satu kuliner khas Indonesia yang bisa ditemukan di tiap sudut kota-kota di Indonesia.Kuliner yang memadukan mi dengan bahan-bahan lain, seperti ayam dan sayur ini biasanya dijual di restoran, warung, hingga gerobak keliling.Menariknya, warna gerobak mi ayam hampir sama, yakni berwarna biru.Lantas, mengapa warna gerobak identik mi ayam berwarna biru?Baca juga: Sering Ada di Mi Ayam dan Bakso, Ketahui 3 Efek Samping Caisim bagi TubuhWarna biru pada gerobak mi ayam diasosiasikan dengan asal-usul kuliner khas Indonesia tersebut.Dikutip dari Grid, warna gerobak biru mulanya berawal dari penjual mi ayam yang berasal dari Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.Di sana, pedagang mi ayam mengecat gerobak mereka dengan warna biru lantaran harganya yang murah.Kemudian, beberapa pedagang merantau ke berbagai kota di Pulau Jawa hingga kebiasaan itu menyebar sehingga menjadi sebuah tradisi massal.Dilansir dari laman Dewan Kesenian Jakarta, warna gerobak bisa menjadi salah satu satu simbol sosial di masyarakat. Begitu juga dengan bentuk dan tipografi hurufnya.Umumnya, desain gerobak bersifat lokal dan menjadi cerminan dari lingkungan, budaya, serta sejarah yang berkembang di daerah tersebut.Seperti halnya gerobak makanan mi ayam Donoloyo yang berasal Wonogiri.Gerobak ini umumnya menggunakan furnitur kayu secara keseluruhan dan menggunakan warna biru pada penulisannya.Berbeda dengan gerobak mi ayam dan jajanan tradisional lainnya di Jakarta, Ciamis, dan daerah Jawa Barat lainnya yang umumnya menggunakan warna cerah.Hal ini menjadi simbol bukti dari nilai fungsi dan ketahanan budaya lokal di masyarakat.Baca juga: Mengapa Bakso dan Mi Ayam Banyak Diburu Saat Lebaran?Seperti yang sudah dijelaskan, gerobak mi ayam berwarna biru umumnya menandakan bahwa mi tersebut berasal dari Wonogiri, Jawa Tengah.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Secara medis, luka dapat dibedakan berdasarkan seberapa dalam jaringan tubuh yang rusak.Luka superfisial adalah jenis luka yang hanya mengenai sebagian lapisan kulit, seperti goresan atau lecet. Luka jenis ini biasanya tidak terlalu dalam dan dapat sembuh dalam waktu cepat.“Luka superfisial itu yang terputus kontinuitasnya hanya sebagian lapisan kulit,” kata dr. Heri.Berbeda dengan luka superfisial, luka dalam biasanya menembus lapisan kulit hingga mengenai jaringan otot, bahkan tulang. Kondisi ini dapat menyebabkan perdarahan dan risiko infeksi yang lebih tinggi.Umumnya, luka dalam memerlukan penanganan medis segera karena proses penyembuhannya lebih kompleks dibanding luka ringan.“Kalau dia luka dalam, itu tembus dari kulit bisa sampai ke otot. Bahkan kalau traumanya berat, bisa sampai ke tulang,” lanjut dr. Heri.Baca juga: SHUTTERSTOCK/NONGASIMO Beda jenis luka, beda penyebab dan cara penyembuhannya. Memahami jenis luka penting agar penanganannya tepat, simak penjelasan dokter.Selain dari kedalamannya, luka juga dapat dikategorikan berdasarkan waktu penyembuhannya menjadi luka akut dan kronis.Menurut dr. Heri, luka akut adalah luka yang sembuh melalui proses alami tubuh dan biasanya pulih dalam waktu beberapa minggu.“Luka juga bisa diklasifikasikan menurut waktu sembuhnya, itu menjadi luka yang akut dan luka yang kronis,” ucap dr. Heri.“Luka yang akut itu adalah luka yang sembuh dengan proses alamiah, yang seharusnya dia bisa sembuh sekitar empat sampai delapan minggu,” tambahnya.Ketika penyembuhan tidak berjalan semestinya, kategori luka bisa berubah menjadi luka kronis, artinya luka yang mengalami proses sembuh lebih lama.“Kalau proses sembuhnya mengalami gangguan, dia akan menjadi suatu luka yang kronis, yang bisa sampai berminggu-minggu, berbulan-bulan, sampai bertahun-tahun,” ujar dr. Heri.Faktor yang bisa menyebabkan luka menjadi kronis antara lain infeksi, kekebalan tubuh, hingga penyakit penyerta seperti diabetes.

| 2026-01-16 17:31