Hasil Investigasi Kemenkes, Ini Penyebab 4 RS di Papua Tolak Ibu Hamil Irene Sokoy

2026-01-12 14:37:42
Hasil Investigasi Kemenkes, Ini Penyebab 4 RS di Papua Tolak Ibu Hamil Irene Sokoy
JAKARTA, - Direktur Jenderal (Dirjen) Kesehatan Lanjutan Kemenkes, Azhar Jaya, menjelaskan empat hal yang menjadi penyebab rumah sakit menolak Irene Sokoy (31), seorang ibu hamil di Jayapura, yang berujung pada kematian tragis pada 16–19 November 2025."Dari hasil investigasi kami, ada empat hal yang menjadi penyebab utama terjadinya kejadian yang tidak kita inginkan di Papua. Yang pertama adalah kelangkaan dokter spesialis," ujar Azhar saat konferensi pers di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Kamis .Rumah sakit pertama yang dituju Irene tidak dapat memberikan pelayanan karena satu-satunya dokter spesialis obgyn di rumah sakit tersebut sedang cuti.Baca juga: Kasus Kematian Irene dan Bayinya, Polda Papua Klaim Transparan soal RS Bhayangkara"Jadi begitu dokter spesialisnya pergi seminar dan sebagainya, maka terjadi kekosongan. Demikian juga dengan dokter spesialis anestesi. Jadi memang masih terjadi kelangkaan dokter spesialis," jelasnya.Kemudian yang kedua adalah adanya pemeliharaan sarana prasarana yang tidak optimal, seperti yang terjadi di Rumah Sakit Abepura."Di mana di RS tersebut empat kamar operasinya semuanya sedang direnovasi. Jadi ini jelas tidak bisa melakukan operasi pada waktu yang bersamaan," kata dia.Penyebab ketiga yakni prosedur operasional standar yang tidak dilaksanakan secara baik di lapangan.Saat di RS Bhayangkara, keluarga Irene diminta membayar uang muka Rp 4 juta karena kamar BPJS yang sedang penuh.Baca juga: RS yang Tolak Ibu Hamil di Papua Terancam Izinnya Dicabut"Di mana seharusnya seorang pasien berada dalam keadaan darurat itu tidak boleh diminta administrasi atau pertanggungjawaban (biaya), harus ditolong dulu. Distabilkan, baru kita bicara soal administrasi," ucapnya.Kemenkes berjanji akan memperbaiki sistem pelayanan kesehatan, terutama dalam menangani pasien gawat darurat agar kejadian ini tidak terjadi lagi."Yang keempat, ya tentu saja ada sistem referensi yang harus kita perbaiki. Itu adalah empat hal. Kami akan mencoba fokus untuk menangani agar kejadian ini tidak terjadi lagi, termasuk dalam memberikan dokter dan sebagainya," ujarnya.Sebelumnya diberitakan, Irene Sokoy meninggal pada Senin pukul 05.00 WIT setelah melalui perjalanan panjang dan melelahkan dari RSUD Yowari, RS Dian Harapan, RSUD Abepura, hingga RS Bhayangkara tanpa mendapatkan penanganan yang memadai.Kepala Kampung Hobong, Abraham Kabey, yang juga mertua almarhum, menceritakan bahwa Irene mulai merasakan kontraksi pada Minggu siang .Baca juga: Kasus Ibu Hamil Meninggal di Papua, Komisi IX: Bukti Ketimpangan Layanan KesehatanKeluarga membawanya menggunakan speedboat menuju RSUD Yowari.Namun, kondisi Irene yang memburuk tidak segera ditangani karena dokter tidak ada di tempat dan pembuatan surat rujukan pun sangat lambat."Pelayanan sangat lama. Hampir jam 12 malam surat belum dibuat," ujar Abraham.Keluarga kemudian membawa Irene ke RS Dian Harapan dan RSUD Abepura, namun kembali tidak mendapat layanan.Perjalanan dilanjutkan ke RS Bhayangkara, tempat keluarga diminta membayar uang muka Rp 4 juta karena kamar BPJS penuh.Dengan demikian, ada empat rumah sakit yang menolak Irene, yaitu Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Yowari, RSUD Abepura, RS Bhayangkara, dan RS Dian Harapan.


(prf/ega)