Usai Indonesia Tolak Atlet Israel, Presiden IOC Gemakan Spirit Olimpiade

2026-01-12 15:57:27
Usai Indonesia Tolak Atlet Israel, Presiden IOC Gemakan Spirit Olimpiade
- Sikap tegas Indonesia untuk melarang atlet Israel berpartisipasi dalam ajang Kejuaraan Dunia Gimnastik 2025 memicu putusan dari IOC. Kini, IOC menyerukan pentingnya menjunjung semangat Olimpiade.Seperti diketahui, Komite Olimpiade Internasional (IOC) merilis putusan pada Rabu silam.Dalam putusan itu disebutkan bahwa IOC menyerukan kepada federasi olahraga internasional agar tidak menyelenggarakan kegiatan apa pun di wilayah Indonesia.Indonesia disebut juga tidak bisa melanjutkan pengajuan diri untuk jadi tuan tumah ajang olahraga yang dipayungi IOC semodel Olimpiade dan Youth Olympic Games. Putusan itu keluar setelah Pemerintah Indonesia menolak memberikan visa kepada atlet Israel yang dijadwalkan mengikuti Kejuaraan Dunia Gimnastik 2025 di Jakarta pada 19-25 Oktober 2025 silam.Baca juga: Indonesia Disanksi IOC: Saatnya Menata Ulang Rumah Olahraga KitaMenyikapi hal ini, Presiden IOC, Kirsty Coventry, merasa perlu untuk menggelorakan lagi semangat Olimpiade.Coventry menegaskan kembali nilai inti dari olahraga yang bersifat universal dan menyatukan,“Kita semua memiliki tujuan yang sama, yaitu memastikan bahwa olahraga kita tetap relevan, menciptakan wadah bagi para atlet untuk mewujudkan harapan dan impian mereka, dan memberi kesempatan bagi mereka untuk benar-benar menjalani harapan dan impian itu,” tuturnya dalam acara International Federation Forum."Semua dari Anda yang hadir di ruangan ini memiliki tanggung jawab dan kunci untuk membuka masa depan bagi para atlet di seluruh dunia,” tuturnya dilansir dari situs resmi Olimpiade.Coventry sadar tentang adanya perbedaan pandangan di antara para pemangku kepentingan olahraga internasional. Karena itu, solidaritas dalam keberagaman menjadi penting.“Saya yakin bahwa banyak dari Anda dan saya tidak akan selalu sepakat dalam beberapa tahun ke depan, tetapi itu tidak apa-apa juga, karena seperti dalam sebuah keluarga, saya berharap kita akan selalu berusaha mengambil keputusan demi kebaikan dan kekuatan keluarga itu,” ujarnya di situs resmi Olimpiade.Baca juga: Putusan IOC Tak Hentikan Olahraga Indonesia, Komunikasi Jadi Jalan KeluarKondisi politik global yang saat ini berdampak pada Gerakan Olimpiade, termasuk larangan bagi Rusia dan Belarus untuk berpartisipasi dalam sejumlah ajang, menjadi perhatian serius IOC.“Gerakan kita telah bertahan selama beberapa generasi. Ia bertahan dari perang, dan tetap hidup karena kita memberi harapan. Itulah yang harus kita lakukan dan terus lakukan hari ini,” katanya.“Kita harus memastikan bahwa semua atlet dari seluruh dunia memiliki kesempatan untuk datang ke Olimpiade, mewujudkan impian mereka, dan menampilkan sisi terbaik dari kemanusiaan,” tutur Coventry.Dok. Kemenpora Menpora RI, Erick Thohir, membua langkah terobosan dengan menyederhanakan 191 peraturan menteri (permen) sejak 2009, menjadi 5 hingga 20.Adapun penolakan Indonesia kepada atlet Israel bukannya tanpa dasar. Diketahui, Indonesia memang tak punya hubungan diplomatik dengan Israel.Sikap ini dijelaskan lebih lanjut oleh Menteri Pemuda dan Olahraga RI, Erick Thohir, dalam sebuah konferensi pers, Jumat lalu."Langkah ini sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.""Prinsip ini juga berdasarkan UUD 1945 yang menghormati keamananan dan ketertiban umum dan juga kewajiban Pemerintah Negara Indonesia untuk melaksanakan ketertiban dunia," ujarnya.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-12 15:35