Pamer Uang Korupsi, Judi Online dan Narkoba: Prestasi atau Kotak Pandora?

2026-01-12 07:12:55
Pamer Uang Korupsi, Judi Online dan Narkoba: Prestasi atau Kotak Pandora?
BEBERAPA waktu lalu, saya menonton ‘sosial eksperimen’ yang dilakukan oleh para konten kreator di media sosial tentang sebuah pilihan.Cerita singkatnya begini. Beberapa orang dengan kategori masyarakat rentan berdasarkan penghasilan (secara spesifik dalam video itu mereka yang tergolong sebagai tunawisma) diberikan kesempatan untuk memilih dua pilihan: lotre atau roti.Hasilnya, banyak yang bikin para netizen shock, mereka lebih memilih lotre.Mengapa? Daniel Kahneman sejak lama menunjukkan bahwa manusia dalam tekanan ekonomi cenderung membeli harapan, bukan probabilitas.Ini diperkuat oleh Sendhil Mullainathan dan Eldar Shafir yang menyebutnya sebagai tunnel effect, ketika kelangkaan memaksa otak hanya fokus pada jalan pintas.Jadi ketika kelompok rentan memilih lotre, itu bukan irasionalitas, tetapi respons terhadap kenyataan yang tidak memberi banyak alternatif.Kalau kita tarik ke Judol alias judi online, polanya persis sama, apalagi risiko hukumnya rendah, aksesnya instan, dan stigma sosialnya hampir tidak ada—kombinasi yang membuat “biaya melanggar” terasa jauh lebih kecil daripada potensi hadiah.Sekarang kita lihat contoh lainnya dari pencandu narkoba. Rasanya tidak perlu saya memaparkan gambaran secara umum tentang pecandu, peredaran dan kasus-kasus narkoba yang hari-hari ini masih terus menghantui masa depan generasi muda bangsa.Baca juga: Menimbang Kembali Narasi ASN Hidup SejahteraCukup ajukan pertanyaan penting dan mendasar tentang mengapa para pecandu narkoba didominasi oleh mereka yang berasal dari kelompok masyarakat rentan juga?Sosiolog Zygmunt Bauman menggambarkan masyarakat modern sebagai dunia yang cair—penuh kecemasan dan tak memberi ruang jeda. Dalam realitas itu, narkoba menawarkan pelarian atau “ruang sementara”.Data statistik menunjukkan prevalensi penyalahgunaan narkoba didominasi kelompok rentan.Mengapa? Karena ketika realitas terlalu keras, pelarian tampak lebih masuk akal daripada perlawanan.Contoh lain lagi, bagaimana dengan korupsi? Secara lebih khusus korupsi di berbagai bidang seperti industri sawit, tambang, minyak bumi dan kebijakan di sektor publik.Baru-baru ini, kita disuguhkan dengan pameran uang triliunan rupiah hasil penyitaan dari korupsi dari berbagai sektor tersebut.Apakah itu prestasi atau justru membuka kotak pandora yang selama ini tertutup rapi? Apakah itu hasil kerja atau justru malah menunjukkan bahwa sistem sebenarnya tidak bekerja? Masalahnya di hulu atau di hilir?Pertanyaan-pertanyaan seperti itu patut kita ajukan, karena sejatinya negara belum mampu mencegah, bukan?Apakah ketiganya punya benang merah? Benang merahnya di mana? Ketiganya mengindikasikan bahwa judi online, narkoba dan korupsi memiliki garis persamaan.Apa itu? Ketiganya adalah problem sosial dengan arsitektur dan alur yang serupa, meskipun tidak sama.Pelakunya banyak, otoritas pengawas terbatas, dan ketiganya adalah ‘barang terlarang’. Kombinasi ini menciptakan ‘pasar gelap’ yang efisien.ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto Kapuspenkum Kejagung Harli Siregar (ketiga kiri) bersama (dari kiri) Kasubdit TPK dan TPPU Direktorat Penuntutan Arif Budiman, Kabid Humedmas M. Irwan Datuiding, Direktur Penyidikan Jampidsus Abdul Qohar Affandi, Direktur Penuntutan Jampidsus Sutikno, dan Kajari Jakarta Pusat Safrianto Zuriat Putra menyampaikan keterangan dalam konferensi pers perkembangan penanganan perkara dugaan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dan Tindak Pidana Korupsi (TPK) dalam kegiatan usaha perkebunan kelapa sawit PT Duta Palma Group di Gedung Bundar Jampidsus Kejaksaan Agung, Jakarta, Kamis . Kejaksaan Agung menyita uang senilai Rp479 miliar dari dua anak perusahaan PT Darmex Plantations dalam perkara dugaan TPPU terkait perkara korupsi kegiatan usaha perkebunan kelapa sawit PT Duta Palma Group. James C. Scott menyebut bagaimana negara sering hanya membangun state optics—tampilan ketertiban, bukan ketertiban itu sendiri.Akibatnya, larangan tanpa desain yang jelas kerap hanya merelokasi kejahatan dari ruang terbuka ke ruang gelap digital.Baca juga: Ekstremisme Remaja: Dari Digital Jadi Brutal


(prf/ega)