Pasar Timur Tengah Menggoda, Pengusaha Minta Kepastian Kebijakan Jaga Industri Mebel dan Kerajinan

2026-01-12 05:53:21
Pasar Timur Tengah Menggoda, Pengusaha Minta Kepastian Kebijakan Jaga Industri Mebel dan Kerajinan
JAKARTA, - Terbukanya peluang ekspor ke Timur Tengah pada 2026 menjadi angin segar bagi industri mebel dan kerajinan nasional. Namun potensi besar itu dinilai tak akan optimal tanpa kepastian dan keberlanjutan kebijakan dari pemerintah.Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur, mengatakan pada 2026 industri mebel dan kerajinan Indonesia melihat peluang pertumbuhan yang lebih terbuka seiring pergeseran peta perdagangan global.Menurutnya, kawasan Timur Tengah menjadi sumber permintaan baru seiring berlanjutnya proyek pembangunan berskala besar, seperti Kota NEOM, The Line, dan Red Sea Project di Arab Saudi.Baca juga: Harga Murah China dan Akses Dagang Vietnam Bikin Industri Mebel TertekanLalu, pengembangan kawasan properti, hotel, dan mixed-use development di Dubai dan Abu Dhabi (UAE) dan Qatar, yang dinilai bisa menciptakan permintaan besar bagi produk furnitur, interior, dan produk kayu bernilai tambah asal Indonesia.“Ini menciptakan kebutuhan signifikan terhadap furnitur, interior, dan produk kayu bernilai tambah,” ujar Sobur lewat keterangan pers, Senin .Peluang 2026 juga ditopang oleh sejumlah perjanjian perdagangan yang telah ditandatangani atau diselesaikan secara substansi, namun masih menunggu proses ratifikasi, antara lain Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA), Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA), serta Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (Indonesia-EAEU FTA/Eurasia).Percepatan ratifikasi perjanjian-perjanjian tersebut dipandang krusial karena dapat membuka akses pasar baru, menurunkan hambatan tarif, dan memperkuat posisi produk furnitur dan kerajinan Indonesia di pasar Eropa, Amerika Utara, dan kawasan Eurasia.Di tengah ketidakpastian ekonomi global, kekuatan ekonomi nasional dinilai tak semata tercermin dari laju pertumbuhan, melainkan dari kemampuan menjaga jutaan orang tetap bekerja dan hidup bermartabat.Baca juga: Bertemu Purbaya, Pengusaha Mebel dan Kerajinan Usul Insentif Ekspor 1 PersenSobur menilai industri furnitur dan kerajinan tumbuh jauh dari pusat kota besar, hidup di desa-desa, serta menyerap jutaan tenaga kerja. Di balik setiap kursi, meja, dan karya kerajinan, terdapat rantai panjang penghidupan, dari perajin, pekerja produksi, hingga komunitas lokal yang menggantungkan masa depan pada keberlanjutan industri padat karya ini.“Menutup 2025, kita belajar bahwa kekuatan ekonomi nasional bukan hanya angka. Ia tercermin dari kemampuan negara menjaga masyarakat tetap bekerja, berdaya, dan bermartabat,” papar Sobur.


(prf/ega)