Negara dengan Jam Kerja Paling Sedikit dan Terbanyak, Indonesia Nomor Berapa?

2026-01-16 13:23:58
Negara dengan Jam Kerja Paling Sedikit dan Terbanyak, Indonesia Nomor Berapa?
- Setiap negara memiliki standar dan budaya kerja yang berbeda. Di beberapa belahan dunia, jam kerja mingguan bisa lebih santai, bahkan kurang dari 40 jam per minggu.Sementara di negara lain bahkan bisa mendekati 50 jam atau lebih.Dilansir dari World Population Review, negara-negara maju dengan tingkat pendapatan tinggi umumnya menerapkan keseimbangan antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi (work-life balance) yang kuat.Di sana, pekan kerja resmi bisa jauh lebih pendek, beberapa bahkan sudah mulai menerapkan sistem empat hari kerja.Selain itu, mereka juga memberikan hari libur lebih banyak, aturan lembur yang lebih manusiawi, serta cuti orang tua yang lebih panjang dan fleksibel.Baca juga: Ada Dua Negara Irlandia di Dunia, Apa Bedanya?Tak heran, negara-negara dengan sistem kerja seperti ini sering kali juga menempati peringkat tinggi dalam daftar negara paling bahagia di dunia.Kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan pekerja tampaknya berdampak langsung pada tingkat kepuasan hidup warganya.Sebaliknya, di sejumlah negara lain, jam kerja panjang masih menjadi norma.Kurangnya perlindungan bagi pekerja, fasilitas yang terbatas, dan sedikitnya waktu untuk beristirahat menjadikan masyarakatnya dikenal sebagai pekerja keras.Kendati demikian sering kali juga menghadapi risiko kelelahan dan tingkat kebahagiaan yang lebih rendah.Baca juga: Indonesia Masih Bersiap, Ini Daftar Negara dengan Redenominasi TerbesarNegara-negara Eropa masih menjadi contoh utama dalam menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.Berdasarkan data terbaru Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), Denmark, Austria, Norwegia, dan Belanda tercatat sebagai negara dengan jam kerja paling sedikit di dunia.Menariknya, satu-satunya negara non-Eropa dalam daftar ini adalah Yaman. Berikut daftarnya:Di posisi teratas, Yaman menjadi negara dengan jam kerja paling sedikit di dunia hanya 25,9 jam per minggu.Namun, angka rendah ini bukan karena keseimbangan hidup, melainkan akibat tantangan ekonomi dan sosial yang membuat banyak warga tidak bekerja penuh waktu.Baca juga: 10 Negara dengan Jam Kerja Paling Sedikit 2025, Satu di Asia


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-16 12:23