JAKARTA, - Harga Bitcoin sempat terjun dari level puncaknya di Oktober sekitar 126.080 dollar AS hingga menyentuh 80.500 dollar AS pada pekan ini. Penurunan drastis awalnya membingungkan pelaku pasar karena tidak ada penjelasan tunggal yang jelas. Trader hanya melihat aksi jual dari Exchange Traded Fund (ETF), pelepasan kepemilikan oleh investor besar (whales), serta jebolnya level-level support penting yang membuat tekanan semakin besar.Namun, mengutip CryptoDnes.bg, Senin , informasi terbaru dalam sepekan terakhir membuka gambaran lebih jelas mengenai penyebab lemahnya kinerja Bitcoin. Temuan ini membuat pelaku pasar melihat situasi dari sudut pandang berbeda dan berpotensi memberi petunjuk arah pergerakan berikutnya.Baca juga: Harga Bitcoin Menguat Tipis, Pasar Kripto Masih Bergerak VolatilPada Rabu lalu, JPMorgan melaporkan bahwa Morgan Stanley Capital International (MSCI), penyedia indeks terbesar di dunia, sedang mempertimbangkan mengeluarkan Strategy, perusahaan dengan kepemilikan Bitcoin terbesar di dunia, dari indeks ekuitasnya. Penilaian MSCI menyebut Strategy dan perusahaan aset digital lain lebih tepat dikategorikan sebagai dana investasi ketimbang perusahaan operasional. Kabar ini mulanya tidak banyak diperhatikan investor, tetapi para pelaku pasar besar tampaknya langsung menangkap dampaknya. Beberapa jam setelah pengumuman MSCI pada 10 Oktober, harga Bitcoin langsung merosot, disusul gelombang likuidasi besar senilai 19,2 miliar dollar AS yang ikut memperparah keadaan.Situasi ini semakin jelas ketika JPMorgan menulis bahwa Strategy berisiko mengalami arus keluar hingga 2,8 miliar dollar AS jika benar-benar dikeluarkan dari indeks MSCI. Bahkan, potensi outflow bisa mencapai 8,8 miliar dollar AS apabila penyedia indeks lainnya mengikuti langkah serupa. Baca juga: Penyebab Harga Bitcoin Turun pada November 2025 dan Apa yang Harus Dilakukan InvestorDengan potensi tekanan sebesar itu, pasar kripto langsung merespons secara agresif. Pada Jumat, Bitcoin jatuh ke level terendah sejak April, yakni 80.500 dollar AS.Dalam kondisi tersebut, CEO Strategy Michael Saylor turun tangan meredam kekhawatiran pasar.Ia menegaskan melalui platform X bahwa Strategy bukanlah sebuah dana investasi (fund), trust (lembaga), ataupun perusahaan induk (holding company), melainkan perusahaan operasional publik dengan bisnis perangkat lunak bernilai 500 juta dollar AS dan strategi treasury yang menjadikan Bitcoin sebagai modal produktif. “Strategy bukan sebuah fund, bukan trust, dan bukan perusahaan holding. Kami adalah perusahaan operasional yang diperdagangkan secara publik, dengan bisnis perangkat lunak senilai 500 juta dollar AS dan strategi treasury unik yang menggunakan Bitcoin sebagai modal produktif,” kata Michael Saylor.Baca juga: Robert Kiyosaki Jual Bitcoin Senilai Rp 37,5 Miliar, Apa Alasannya?Pernyataan tersebut membantu meredam kepanikan, membuat pasar kembali stabil. Hingga Minggu, Bitcoin menguat 2,5 persen dalam 24 jam terakhir dan diperdagangkan di kisaran 86.100 dollar AS.Meski harga mulai pulih, ketidakpastian masih membayangi. MSCI baru akan mengumumkan keputusan final terkait delisting Strategy pada 15 Januari 2026.Selama keputusan itu belum keluar, pasar kripto kemungkinan tetap volatile.
(prf/ega)
Harga Bitcoin Anjlok Tajam Sentuh 80.500 Dollar AS, Diproyeksi Pulih Awal 2026
2026-01-12 04:23:05
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 04:11
| 2026-01-12 02:16
| 2026-01-12 02:15
| 2026-01-12 02:07
| 2026-01-12 02:02










































