Momen Haru Warga Tapteng Korban Banjir Video Call Keluarga Pertama Kali

2026-01-14 03:46:13
Momen Haru Warga Tapteng Korban Banjir Video Call Keluarga Pertama Kali
Sejumlah warga Tapanuli Tengah, Sumatera Utara menangis haru saat melakukan video call dengan keluarganya. Sebelumnya korban bencana alam di Tapteng tak bisa berkomunikasi dengan keluarga usai jaringan telekomunikasi terputus.Dilansir detikSumut, Senin (1/12/2025), salah satu video yang menunjukkan sejumlah masyarakat menangis haru karena bisa berkomunikasi dengan keluarganya, viral di media sosial. Berdasarkan video yang dilihat detikSumut, tampak seorang wanita berhijab berada di salah satu tenda.Di sekelilingnya ramai orang, ada petugas kepolisian dan TNI. Tepat di sebelahnya ada Kapolres Tapteng AKBP Wahyu Endrajaya.Sambil menggendong anaknya yang masih bayi, dia memegang handphone bervideo call dengan keluarganya. Tak hanya wanita berjilbab itu, beberapa warga lainnya yang berada di tenda yang juga tak kuasa menahan tangis saat bertelepon dengan keluarganya.Beberapa di antaranya tengah mengantre untuk bisa bergantian menghubungi keluarganya. Handphone yang digunakan para korban banjir itu merupakan hp pihak kepolisian yang memang sengaja diberikan agar para pengungsi bisa menghubungi keluarganya.Dalam unggahan Polres Tapteng di Instagram, kejadian di video viral itu terjadi di GOR Pandan, tempat pengungsian korban bencana, Jumat (28/11). Saat itu, Polres Tapteng membuka layanan hotline darurat starlink untuk memfasilitasi masyarakat yang ingin menghubungi keluarganya di tengah jaringan telekomunikasi yang terputus."Polres Tapanuli Tengah berikan layanan hotline darurat starlink kepada warga pengungsi bencana alam di Tapanuli Tengah, kegiatan digelar di GOR Pandan," demikian narasi unggahan ituSimak selengkapnya di sini.Tonton juga video "Banjir Bandang Sumatera Barat, Korban Meninggal Capai 132 Orang"[Gambas:Video 20detik]


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-14 03:39