Harga Bitcoin Jatuh ke Bawah 100.000 Dollar AS, Apakah Awal dari Koreksi Besar?

2026-02-04 02:17:52
Harga Bitcoin Jatuh ke Bawah 100.000 Dollar AS, Apakah Awal dari Koreksi Besar?
– Harga bitcoin kembali anjlok dan sempat menembus di bawah 100.000 dollar AS (sekitar Rp 1,67 miliar) untuk pertama kalinya dalam lebih dari empat bulan pada perdagangan Selasa waktu setempat.Mengutip CNBC, bitcoin terakhir diperdagangkan turun 5 persen ke level 100.893 dollar AS (sekitar Rp 1,685 miliar) setelah sempat menyentuh titik terendah harian di 99.966 dollar AS (sekitar Rp 1,669 miliar). Ini merupakan kali pertama sejak 23 Juni bitcoin berada di bawah level 100.000 dollar AS.Sementara itu, ether, mata uang kripto terbesar kedua berdasarkan kapitalisasi pasar, juga terkoreksi hampir 9 persen ke posisi 3.275 dollar AS (sekitar Rp 54,7 juta).Baca juga: Harga Bitcoin Terus Melemah, Masih Tepat untuk Beli BTC?Aksi jual terjadi karena investor menghindari aset berisiko di tengah kekhawatiran terhadap keberlanjutan valuasi saham yang melonjak akibat euforia perdagangan berbasis kecerdasan buatan (AI).Indeks Nasdaq Composite, yang banyak berisi saham-saham AI, turun lebih dari 1 persen. Investor melepas saham Palantir karena dinilai terlalu mahal meski kinerja keuangannya cukup solid.“Bitcoin dan pasar kripto secara keseluruhan sedang kelelahan,” ujar Haonan Li, pendiri platform stablecoin berbasis Ethereum Codex kepada CNBC.“Meskipun pertumbuhan stablecoin meningkat dan bitcoin makin berperan sebagai penyimpan nilai institusional, kabar buruk sangat berdampak bagi kripto saat ini, sementara kabar baik hampir tidak berpengaruh,” tambahnya.Baca juga: Mengapa Harga Bitcoin (BTC) Naik dan Turun? Ini Sejumlah PenyebabnyaAnalis Compass Point, Ed Engel, menilai investor individu tampak tidak banyak memanfaatkan momentum penurunan harga seperti pada siklus sebelumnya.“Menjual dari pemegang jangka panjang adalah hal yang umum di pasar bullish, tetapi pembeli ritel di pasar spot kali ini tampak kurang aktif dibandingkan siklus sebelumnya,” tulis Engel dalam catatannya.Menurutnya, penurunan ini bisa menyeret harga bitcoin lebih dalam dan menembus level psikologis 100.000 dollar AS jika investor jangka pendek ikut panik menjual.“Kami melihat ada dukungan harga di atas 95.000 dollar AS (sekitar Rp 1,587 miliar), tetapi belum banyak katalis positif dalam waktu dekat,” ujarnya.Engel juga mencatat bahwa pola musiman yang biasanya kuat di Oktober gagal terwujud tahun ini. Terakhir kali bitcoin gagal naik di Oktober terjadi pada 2018, di mana bulan berikutnya harga anjlok hingga 37 persen.Baca juga: Harga Bitcoin Turun, Sinyal Waspada Crash Besar Pasar Kripto atau Justru Peluang bagi Investor?Mengutip Trading View, bitcoin kesulitan mempertahankan level support kunci meski bank sentral AS, The Fed, memangkas suku bunga pada pekan lalu. Harga BTC kini berada di sekitar 104.000 dollar AS, turun 8,21 persen dalam sepekan terakhir.Penyebab utama tekanan ini adalah sikap hati-hati The Fed pasca keputusan suku bunga. Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan pemangkasan suku bunga lanjutan pada Desember 2025 belum dijamin, meski quantitative tightening (QT) akan berakhir pada bulan yang sama.Pernyataan tersebut mengecewakan pasar. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang pemangkasan suku bunga kedua pada Desember turun dari 90 persen menjadi 63 persen, sedangkan peluang Januari 2026 tinggal 19,5 persen.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#1

Sementara Samsung Music Studio 5 hadir dengan ukuran lebih ringkas. Speaker ini ditujukan bagi pengguna yang menginginkan kualitas audio mumpuni tanpa mengganggu tampilan ruangan. Music Studio 5 mendukung koneksi WiFi dan Bluetooth, layanan streaming, serta kontrol suara.Kedua speaker WiFi Music Studio juga dirancang agar mudah diintegrasikan dengan soundbar dan TV Samsung, sebagai bagian dari ekosistem audio terpadu.Samsung juga meningkatkan teknologi Q-Symphony, yang memungkinkan TV, soundbar, dan speaker WiFi bekerja sebagai satu sistem audio. Pengguna dapat menghubungkan hingga lima perangkat audio sekaligus, dengan sistem yang menyesuaikan suara berdasarkan tata letak ruangan.Selain itu, Samsung juga memperkenalkan jajaran ekosistem audio terbaru mereka dari lini soundbar Q Series.Selama lebih dari satu dekade, Samsung telah membentuk evolusi audio rumah melalui teknologi akustik canggih, fitur cerdas, dan desain yang dipikirkan secara matang, ungkap Hun Lee, Executive Vice President Visual Display Business Samsung Electronics, dikutip KompasTekno dari halaman resmi Samsung. Kami melanjutkan warisan tersebut dengan perangkat audio generasi terbaru yang dirancang untuk menghadirkan performa suara yang kaya dan ekspresif di setiap ruang dan momen, lanjut dia. Salah satu produk utama dalam ekosistem audio terbaru ini adalah soundbar flagship HW-Q990H.Baca juga: Ketika HP Lipat Tiga Samsung Galaxy Z TriFold Dibuka-Tutup Barbar 200.000 Kali...Soundbar ini hadir dengan sistem 11.1.4-channel yang menggabungkan soundbar utama, speaker belakang, dan subwoofer aktif. Samsung juga menambahkan teknologi Sound Elevation agar terdengar lebih natural, serta fitur Auto Volume untuk menjaga konsistensi suara di berbagai jenis konten.Soundbar ini juga dibekali fitur berbasis AI untuk memperluas bidang suara. Lewat fitur ini, Samsung mengeklaim pengalaman audio yang dihadirkan setara dengan sistem home theater profesional, tetapi tetap ringkas untuk penggunaan di rumah.Selain itu, Samsung memperkenalkan All-in-One Soundbar HW-QS90H. Soundbar ini bisa dipasang di dinding atau diletakkan di atas meja. Sensor di dalamnya akan menyesuaikan arah suara secara otomatis sesuai posisi perangkat. Dengan sistem 7.1.2-channel dan 13 speaker, soundbar ini mampu menghasilkan bass yang dalam tanpa perlu subwoofer tambahan.

| 2026-02-04 01:19