Dari Hobi hingga Ladang Cuan, Jastip Jadi Jalan Baru Mendulang Penghasilan

2026-01-12 17:16:52
Dari Hobi hingga Ladang Cuan, Jastip Jadi Jalan Baru Mendulang Penghasilan
JAKARTA, — Di tengah ritme kota yang kian padat dan kebutuhan hidup yang terus meningkat, jasa titip atau jastip menjelma menjadi salah satu bentuk kerja baru yang tumbuh cepat di perkotaan.Ia hadir bukan sebagai usaha besar yang dirancang matang, melainkan lahir dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang berulang dan perlahan menemukan momentumnya sendiri.Dari perjalanan yang awalnya sekadar hobi, dari konten media sosial yang tak sengaja viral, hingga dari permintaan sederhana “titip dong” yang lama-kelamaan berubah menjadi antrean pesanan, jastip berkembang menjadi cara baru sebagian orang mendulang penghasilan.Baca juga: Jastip dan Waktu yang Tak Pernah Cukup di Kota BesarDari sekadar menitipkan barang kepada teman yang bepergian, jasa titip kini menjelma menjadi bagian dari cara masyarakat memenuhi kebutuhan, baik untuk barang luar negeri maupun produk lokal yang sulit dijangkau.Fenomena ini tumbuh seiring meningkatnya mobilitas, peran media sosial, serta kebiasaan masyarakat yang kian mengutamakan kemudahan. Dari pakaian dan barang gaya hidup hingga makanan khas, jastip menjembatani jarak antara permintaan dan ketersediaan.Bagi Raka (27), jastip tidak pernah dirancang sebagai bisnis sejak awal. Ia berangkat dari kesukaan pribadi bepergian ke luar negeri, menjelajahi kota-kota baru, sekaligus berburu barang yang tidak selalu tersedia di Indonesia.Dari aktivitas itulah, permintaan mulai berdatangan, awalnya dari lingkar pertemanan sendiri. Permintaan yang semula kecil dan informal perlahan membesar. Dari sekadar titipan teman, berubah menjadi pesanan rutin yang membutuhkan perhitungan lebih matang.Di titik itu, Raka mulai melihat jastip bukan hanya sebagai bantuan, tetapi sebagai peluang.Baca juga: Suka Duka Jastip Fristo di Perjalanan Cipanas–Tebet, dari Barang Ketinggalan hingga Lupa Dibeli“Saya mulai jastip sekitar awal 2021. Awalnya karena suka jalan-jalan ke luar negeri. Dari situ teman-teman mulai nitip barang, dari situ kepikiran, kenapa nggak sekalian dibikin lebih serius," kata dia kepada Kompas.com, Selasa .Seiring waktu, jumlah pesanan yang masuk ke Raka terus bertambah. Apa yang awalnya hanya mengisi waktu luang, mulai menuntut perhatian lebih.Ia harus menghitung modal, mengatur waktu belanja, hingga menjaga komunikasi dengan pelanggan.“Awalnya murni sampingan. Tapi lama-lama peminatnya makin banyak, pesanan rutin, akhirnya jadi salah satu sumber penghasilan utama," ujar dia.Transformasi ini tidak selalu mulus. Jastip bukan sekadar membeli barang lalu menyerahkannya kepada pelanggan. Ada tanggung jawab, kepercayaan, dan risiko yang harus ditanggung oleh jastiper.Raka juga harus memilih jenis barang yang tepat. Tidak semua barang cocok dijadikan titipan, terutama jika mempertimbangkan ukuran, risiko kerusakan, dan tren pasar.“Paling banyak pakaian, terutama brand yang modelnya beda atau enggak masuk Indonesia. Selain itu barang lifestyle kayak tas, sepatu, dan kadang kosmetik," katanya.Baca juga: Kisah Fristo: Raup Cuan lewat Bisnis Jastip dari Perjalanan PP Cipanas-Jakarta


(prf/ega)