- Teror Westerling di Sulawesi Selatan pada periode Desember 1946 hingga Februari 1947 merupakan salah satu episode paling kelam dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.Peristiwa ini mengingatkan kita pada pengorbanan ribuan jiwa rakyat Indonesia yang menjadi korban kekerasan sistematis dalam upaya Belanda mempertahankan kekuasaan kolonialnya.Simak penjelasan berikut untuk mengetahui sejarahnya!Baca juga: Alasan Pemberontakan Westerling Memakai Nama Perang Ratu AdilHari Peringatan Korban 40.000 Jiwa Sulawesi Selatan merupakan momentum bersejarah yang mengenang tragedi kemanusiaan yang terjadi pada periode Desember 1946 hingga Februari 1947.Peristiwa kelam ini bermula dari upaya Belanda untuk merebut kembali kekuasaannya di Indonesia pasca Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.Dalam upaya mengembalikan kontrol kolonialnya, pemerintah Belanda melakukan berbagai strategi, termasuk membentuk negara-negara boneka berbentuk federal.Salah satunya adalah Negara Indonesia Timur dengan pusat pemerintahan di Makassar, Sulawesi Selatan. Pembentukan negara federal ini dibahas dalam Konferensi Malino (15-25 Juli 1946) dan Konferensi Denpasar (7-24 Desember 1946).Untuk merealisasikan ambisinya menguasai kembali wilayah Indonesia, Belanda mengirimkan pasukan elite Depot Speciale Troepen (DST) di bawah komando Kapten Raymond Pierre Paul Westerling.Ia dan pasukan berjumlah 120 orang tiba di Indonesia pada 5 Desember 1946 dengan misi melakukan operasi "pembersihan" terhadap pejuang kemerdekaan Indonesia di Sulawesi Selatan.Westerling menerapkan metode yang kemudian dikenal sebagai "Metode Standrecht" pengadilan dan eksekusi di tempat.Caranya brutal dan sistematis: mengepung desa, mengumpulkan penduduk di tanah lapang, kemudian melakukan interogasi dan eksekusi langsung terhadap mereka yang dituduh sebagai pemberontak atau simpatisan kemerdekaan.Operasi pertama dimulai pada malam 11 Desember 1946, tepat setelah Pemerintah Belanda secara resmi menyatakan keadaan darurat perang atau Staat van Oorlog en Beleg (SOB) di wilayah Sulawesi Selatan. Inilah mengapa tanggal 11 Desember dipilih sebagai Hari Peringatan Korban 40.000 Jiwa.Baca juga: Raymond Westerling, Hitler dari BelandaWikimedia Commons Raymond Westerling.Masa-masa akhir penjajahan Belanda di Indonesia penuh dengan peristiwa menyedihkan yang menunjukkan keputusasaan sebuah kerajaan yang tidak mau melepaskan wilayah jajahannya.Salah satu peristiwa paling kontroversial adalah kemunculan Raymond Westerling dan pemberontakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) yang ia pimpin pada tahun 1950.Kekuasaan Belanda di Hindia Timur yang sudah berabad-abad lamanya mulai goyah setelah masa penjajahan Jepang berakhir pada tahun 1945.
(prf/ega)
Mengenang Hari Peringatan Korban 40.000 Jiwa Akibat Teror Westerling, 11 Desember
2026-01-11 03:25:52
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 03:21
| 2026-01-11 03:08
| 2026-01-11 03:07
| 2026-01-11 01:41










































