- Di tengah hiruk pikuk ketakutan akan hilangnya pekerjaan pemula (entry-level) karena akal imitasi atau artificial intellegence (AI) ada narasi harapan baru muncul. AI tidak menggantikan manusia, melainkan hanya mengganti cara kerja.Pergeseran ini menuntut literasi digital baru yang tidak lagi berfokus pada penguasaan alat secara tunggal melainkan pada kemampuan untuk mengarahkan teknologi, dalam hal ini akal imitasi.Pandangan ini disampaikan Co-Founder dan CEO dari ChatBar AI, Ryan McClure dalam forum HIMFEST 2025 yang diselenggarakan Binus University , Kampus Alam Sutera, Tangerang, Banten.Di hadapan ratusan mahasiswa, profesional muda, dan akademisi, Ryan menegaskan, bagi lulusan baru memilih untuk belajar AI bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan untuk tetap relevan dalam karier.Dalam presentasinya berjudul "Dampak AI terhadap Pekerjaan Entry-Level: Perspektif dari Garis Depan", Ryan McClure menyajikan data yang menunjukkan perubahan sedang terjadi secara dramatis, bukan hanya sekadar prediksi masa depan:Dia juga mengungkapkan, pekerjaan apa yang terpengaruh adalah pekerjaan yang selama ini menjadi tugas staf junior/baru dan intern seperti mengumpulkan riset pasar, penyuntingan gambar dan desain dasar, perakitan konten video, dan penyempurnaan copy writing."Sebanyak 70-80 persen (pekerjaan itu) telah diselesaikan AI dalam hitungan menit, bukan hari," ungkap Ryan.Baca juga: Meta Gandeng Lagi Penerbit Berita, demi Konten AI yang Lebih Relevan"AI tidak menggantikan manusia. AI menggantikan proses. Pemenangnya adalah mereka yang tahu cara mengarahkan AI, bukan bersaing dengannya," tegasnya.DOK. CHATBAR Co-Founder dan CEO dari ChatBar AI, Ryan McClure (tengah) dalam HIMFEST 2025 yang diselenggarakan Binus University , Kampus Alam Sutera, Tangerang, Banten.Saat ini, jalur karier tradisional dengan tugas berulang secara bertahap selama 5-10 tahun telah digantikan realitas baru bernama akal imitasi. Dalam realitas ini, AI menangani tugas-tugas pemula.Ryan menjelaskan, dunia kerja kini terbagi menjadi dua kubu dalam mengadopsi AI. Kubu pertama 40 persen perusahaan fokus pada "mengurangi" dengan mengotomatisasi tugas dan menghilangkan posisi.Sementara kubu lain, 60 persen perusahaan fokus pada "menguatkan" dengan memberdayakan pekerja untuk meningkatkan produktivitas."Masa depan karier seorang profesional muda," menurut Ryan, "sangat bergantung pada perusahaan mana yang mereka masuki dan bagaimana mereka memposisikan diri."Menghadapi tantangan ini, dia menjelaskan lulusan baru yang masuk dunia kerja perlu menyiapkan beberapa kunci penting ini cepat dalam beradaptasi, terus melakukan inovasi dan eksperimen, serta tidak berhenti untuk terus belajar."Pergeseran ini justru menguntungkan profesional muda karena mereka terbiasa dengan perubahan yang cepat. Adaptabilitas adalah keunggulan kompetitif utama mereka di era AI," tegasnya lagi.Pergeseran mendasar dalam kebutuhan pasar kerja ini harus menjadi perhatian utama dunia pendidikan tinggi. Jika tugas-tugas dasar yang dulu menjadi fondasi praktik kerja junior kini terotomatisasi, maka kurikulum harus juga bergeser dari mengajar "cara melakukan" menjadi "cara berpikir kritis."Pendidikan tinggi perlu memasukkan penguasaan alat AI, seperti yang dicontohkan oleh ChatBar AI, ke dalam kurikulum mereka, lebih dari sekadar chatbot seperti menciptakan konten B2B profesional dalam hitungan jam yang sebelumnya memakan 2-3 minggu.Baca juga: Awal Revolusi AI: Server Nvidia Tak Laku, Elon Musk Beli dan Ubah Sejarah"Tidak seorang pun yang memiliki 20 tahun pengalaman AI. Medan persaingan akan berlangsung fair, siapa pun yang belajar paling cepat, dia yang menang," ungkap Ryan."Pendidikan harus memberdayakan mahasiswa untuk berada di garis depan, di mana pemikiran segar mengalahkan pengetahuan usang saat ini," pungkasnya.
(prf/ega)
Kebutuhan Literasi Baru: Mengarahkan AI, Bukan Bersaing Dengannya
2026-01-12 22:39:21
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 22:52
| 2026-01-12 22:50
| 2026-01-12 22:13
| 2026-01-12 20:52
| 2026-01-12 20:41










































