Bukan Sekadar Cerita, Ini Pentingnya Riset dalam Dunia Film

2026-02-04 10:04:56
Bukan Sekadar Cerita, Ini Pentingnya Riset dalam Dunia Film
Ingatkah kamu ketika menonton film awal 2000-an, tetapi mendapati tokohnya sudah menggunakan gawai canggih yang jelas belum ada di era tersebut?Apakah detail kostum dan dialog yang terasa “tidak pada tempatnya”? Sejauh apa sebenarnya riset berperan dalam menjaga keutuhan sebuah film?Ketidaksesuaian detail semacam itu mungkin terlihat sepele, namun kerap mengganggu pengalaman menonton.Lebih jauh lagi, hal tersebut bisa memengaruhi kredibilitas pembuat film di mata penonton.Kesadaran inilah yang mendorong pentingnya riset sebagai fondasi dalam proses produksi film—sebuah topik yang dibahas dalam Kelas Riset Film yang diselenggarakan oleh Kineforum bekerja sama dengan DoResearch.Bertempat di Ruang Seni Rupa Gedung Trisno Soemardjo, kegiatan yang berlangsung pada 5 Desember ini diikuti sekitar 30 peserta.Selama sehari penuh, peserta mendapatkan pembekalan dari dua narasumber, Dodit Wijanarko dan Barly J. Fibriady.Tak hanya pemaparan materi, kelas ini juga diisi dengan praktik menentukan tema dan metode riset film, lengkap dengan sesi presentasi serta umpan balik langsung dari para pemateri.Riset sebagai Penjaga Akurasi CeritaDodit Wijanarko membagikan pengalamannya saat terlibat dalam riset karakter untuk sebuah film. Ia mencontohkan bagaimana seorang penulis skenario meminta bantuan riset untuk tokoh berlatar tahun 1990-an di sebuah daerah tertentu, dengan keseharian berdagang di kawasan lokalisasi.Detail-detail seperti jenis pakaian, pilihan dialog, hingga barang dagangan di warung menjadi krusial untuk ditelusuri.Kesalahan kecil, seperti menghadirkan produk yang belum beredar pada era tersebut, dapat merusak soliditas cerita.Begitu pula kostum yang tidak sesuai zaman bisa membuat penonton merasa “terlepas” dari dunia yang sedang dibangun film.Menurut Dodit, riset film adalah proses pengumpulan dan analisis data yang dilakukan sebelum dan selama produksi untuk memastikan akurasi, kedalaman cerita, serta kekuatan elemen visual.Aspek yang diriset mencakup latar sejarah, budaya, karakter, lokasi, hingga kostum, agar film terasa otentik dan kredibel.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Secara medis, luka dapat dibedakan berdasarkan seberapa dalam jaringan tubuh yang rusak.Luka superfisial adalah jenis luka yang hanya mengenai sebagian lapisan kulit, seperti goresan atau lecet. Luka jenis ini biasanya tidak terlalu dalam dan dapat sembuh dalam waktu cepat.“Luka superfisial itu yang terputus kontinuitasnya hanya sebagian lapisan kulit,” kata dr. Heri.Berbeda dengan luka superfisial, luka dalam biasanya menembus lapisan kulit hingga mengenai jaringan otot, bahkan tulang. Kondisi ini dapat menyebabkan perdarahan dan risiko infeksi yang lebih tinggi.Umumnya, luka dalam memerlukan penanganan medis segera karena proses penyembuhannya lebih kompleks dibanding luka ringan.“Kalau dia luka dalam, itu tembus dari kulit bisa sampai ke otot. Bahkan kalau traumanya berat, bisa sampai ke tulang,” lanjut dr. Heri.Baca juga: SHUTTERSTOCK/NONGASIMO Beda jenis luka, beda penyebab dan cara penyembuhannya. Memahami jenis luka penting agar penanganannya tepat, simak penjelasan dokter.Selain dari kedalamannya, luka juga dapat dikategorikan berdasarkan waktu penyembuhannya menjadi luka akut dan kronis.Menurut dr. Heri, luka akut adalah luka yang sembuh melalui proses alami tubuh dan biasanya pulih dalam waktu beberapa minggu.“Luka juga bisa diklasifikasikan menurut waktu sembuhnya, itu menjadi luka yang akut dan luka yang kronis,” ucap dr. Heri.“Luka yang akut itu adalah luka yang sembuh dengan proses alamiah, yang seharusnya dia bisa sembuh sekitar empat sampai delapan minggu,” tambahnya.Ketika penyembuhan tidak berjalan semestinya, kategori luka bisa berubah menjadi luka kronis, artinya luka yang mengalami proses sembuh lebih lama.“Kalau proses sembuhnya mengalami gangguan, dia akan menjadi suatu luka yang kronis, yang bisa sampai berminggu-minggu, berbulan-bulan, sampai bertahun-tahun,” ujar dr. Heri.Faktor yang bisa menyebabkan luka menjadi kronis antara lain infeksi, kekebalan tubuh, hingga penyakit penyerta seperti diabetes.

| 2026-02-04 10:06