JAKARTA, - Pemerintah membantah kabar kesepakatan perdagangan terkait tarif resiprokal dengan Amerika Serikat (AS) yang diumumkan pada Juli 2025 berada di ambang kegagalan.Bantahan tersebut disampaikan setelah seorang pejabat AS, menurut berita dari Reuters, menyatakan bahwa Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta menarik kembali sejumlah komitmen yang telah disetujui dalam perundingan.Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menegaskan, kesepakatan perdagangan tersebut masih tetap berlangsung dan tidak ada permasalahan yang menyebabkan perundingan terancam batal.Baca juga: Kesepakatan Dagang AS–Indonesia Terancam, Washington Ungkap SebabnyaMenurutnya, segala dinamika yang terjadi selama proses perundingan perdagangan antara kedua negara merupakan hal yang wajar."Perundingan dagang Indonesia dan Amerika Serikat masih berproses, tidak ada permasalahan spesifik dalam perundingan yang dilakukan," ujarnya saat dikonfirmasi Kompas.com, Rabu .Haryo menambahkan, pemerintah terus mendorong agar kesepakatan antara kedua negara dapat segera tercapai dan harus memberikan manfaat bagi kedua belah pihak."Pemerintah Indonesia berharap kesepakatan dapat segera selesai dan menguntungkan kedua belah pihak," tukasnya.Untuk diketahui, Kemenko Perekonomian yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjadi kementerian yang bertanggung jawab atas kelancaran proses negosiasi tarif resiprokal dengan AS.Seperti diketahui, pada 15 Juli lalu Indonesia dan AS sepakat untuk menurunkan tarif resiprokal dari 32 persen menjadi 19 persen kepada barang-barang Indonesia yang masuk ke AS.Penurunan tarif resiprokal tersebut dibarengi dengan Indonesia setuju untuk melakukan penghapusan tarif pada lebih dari 99 persen barang AS dan penghapusan seluruh hambatan non-tarif terhadap produk AS yag masuk ke RI.Baca juga: Trump Hapus Tarif Impor untuk 4 Negara, Ini DaftarnyaTeranyar, mengutip Reuters, kesepakatan tersebut berisiko runtuh karena Pemprov Jakarta telah menarik kembali beberapa komitmen yang dibuat sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, kata seorang pejabat AS pada hari Selasa."Mereka mengingkari apa yang telah kita sepakati pada bulan Juli," kata pejabat tersebut, dikutip dari Reuters, Rabu.Meski begitu, pihak Jakarta ingin merumuskan komitmennya kembali. Namun pejabat AS tersebut meyakini kesepakatan yang baru dapat memberikan efek yang lebih buruk bagi AS daripada kesepakatan baru-baru ini yang telah dicapai dengan dua negara Asia Tenggara lainnya, Malaysia dan Kamboja, kata pejabat tersebut.Pernyataan ini membenarkan detail yang pertama kali dilaporkan sebelumnya pada hari Selasa oleh Financial Times.Financial Times melaporkan bahwa pejabat AS percaya Indonesia mengalami kemunduran dalam penghapusan hambatan non-tarif pada ekspor industri dan pertanian dari AS serta komitmen untuk mengambil tindakan pada isu-isu perdagangan digital.Reuters menyebut, belum ada komentar dari Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR) terkait kabar ini.Menteri Keuangan AS Scott Bessent pekan lalu mengatakan dalam acara New York Times Dealbook bahwa Indonesia "agak keras kepala" dalam kesepakatan perdagangannya dengan Amerika Serikat, tetapi tidak memberikan penjelasan lebih lanjut.Sebaliknya, Malaysia telah terbukti sebagai aktor yang baik dan telah menghapus ribuan tarif sehingga perdagangan antara AS dan negara itu berjalan jauh lebih lancar.
(prf/ega)
RI Bantah Kesepakatan Tarif dengan AS Terancam Batal, Tegaskan Negosiasi Masih Berjalan
2026-01-12 07:32:57
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 08:07
| 2026-01-12 07:42
| 2026-01-12 07:24
| 2026-01-12 07:24










































