Wamensos Klaim RI Masih Mampu Tangani Banjir Sumatera Tanpa Bantuan Asing

2026-01-12 04:56:07
Wamensos Klaim RI Masih Mampu Tangani Banjir Sumatera Tanpa Bantuan Asing
MAGELANG, - - Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono mengeklaim Indonesia masih sanggup menangani pemulihan banjir dan tanah longsor di Pulau Sumatera tanpa bantuan asing.Hal ini disampaikan Agus menanggapi berbagai pihak yang mendesak agar pemerintah membuka akses masuk bantuan asing untuk pemulihan banjir dan tanah longsor di Pulau Sumatera."Pak Presiden sudah menyampaikan berkali-kali bahwa kita masih sanggup," ujar Jabo di kantor Desa Purwosari, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Kamis .Baca juga: Demo Penanganan Bencana Aceh, Demonstran: Kami Sudah Habis Air Mata...Jabo menilai pemerintah di 52 kabupaten/kota di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang terdampak banjir telah melaksanakan upaya pemulihan secara baik.Menurutnya, percepatan pemulihan sudah cukup dilakukan melalui kerja sama antara pemerintah pusat dan daerah, tanpa perlu tambahan bantuan asing."Dukungan stok logistik masih sangat cukup," cetusnya.Baca juga: Bendera Putih Berkibar di Aceh, Apa Artinya dan Bagaimana Pemerintah Merespons?Banjir dan tanah longsor melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025.Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Rabu, 17 Desember 2025, jumlah korban meninggal akibat bencana di Sumatera mencapai 1.059 orang.Sejumlah pihak mendesak pemerintah menetapkan banjir Sumatera sebagai bencana nasional agar pemulihan dapat dipercepat dan bantuan asing bisa masuk ke Tanah Air.Namun, Presiden Prabowo Subianto menolak usulan tersebut.Baca juga: Terorisme Ekologis di Sumatera: Kekerasan yang DisengajaDi tengah kontroversi itu, Pemerintah Aceh mengirim surat ke dua lembaga di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yakni United Nations Development Programme (UNDP) dan United Nations Children’s Fund (Unicef), yang telah beroperasi di Indonesia.UNDP merupakan lembaga yang bergerak di bidang pembangunan negara, termasuk pemberantasan kemiskinan dan pengurangan ketimpangan. Sementara itu, Unicef berfokus pada kesejahteraan anak.


(prf/ega)