DI tengah hiruk-pikuk pembangunan kota yang dipenuhi beton, gedung pencakar langit, dan infrastruktur modern, ada fondasi sunyi yang kerap luput dari perhatian, yaitu tanah. Lahan dan tanah kota yang sehat, yang menyediakan jasa ekosistem penting, mulai dari produksi pangan, penyaringan air, penyerapan karbon, hingga pengaturan iklim mikro dan kelestarian keanekaragaman hayati.Sebaliknya, tanah yang tertutup beton, tercemar, atau terdegradasi akan melemahkan daya dukung lingkungan kota dan pada akhirnya menurunkan kualitas hidup warganya.Sayangnya, laju urbanisasi sering memperlakukan tanah sekadar sebagai ruang kosong yang siap ditutup dan dipadatkan. Fenomena soil sealing (tanah tertutup, tidak bias menyerap air), pencemaran industri, serta alih fungsi lahan menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan kota.Dampaknya nyata, banjir makin sering terjadi karena air hujan tidak lagi terserap, polusi udara meningkat, ketersediaan air bersih menyusut, dan pangan yang dihasilkan kehilangan kualitas kesehatannya. Tanah yang rusak tidak mampu menyaring polutan, gagal mendukung tanaman secara optimal, bahkan berpotensi menyalurkan logam berat berbahaya ke dalam rantai pangan. Mengabaikan tanah berarti mempertaruhkan masa depan kota.Baca juga: Panen di Tengah Kepadatan Kota, Urban Farming Jadi Napas Kampung Warung BandrekSesungguhnya, kota-kota di Indonesia tidak pernah benar-benar kekurangan ruang hijau. Di balik rapatnya bangunan, masih tersimpan potensi besar berupa lahan pekarangan rumah, halaman sempit, hingga lahan tidur yang selama ini belum dioptimalkan.Sejak 2011, pemerintah telah menggulirkan semacam konsep urban farming melalui program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) untuk mendorong pemanfaatan pekarangan sebagai sumber pangan keluarga, baik di desa maupun di kota. Konsepnya sederhana namun kuat, rumah tangga mengelola pekarangannya secara intensif dengan memanfaatkan sumber daya lokal untuk menjamin ketersediaan pangan yang beragam dan berkelanjutan.Program ini dilengkapi pendampingan, bantuan permodalan, hingga pengembangan bank bibit, pengolahan kompos, budidaya sayur, buah, tanaman obat, serta ternak skala rumah tangga. Hasilnya bukan hanya tambahan pangan sehat, tetapi juga peningkatan kesejahteraan keluarga dan terciptanya lingkungan rumah yang lebih hijau, bersih, dan sehat.Dalam praktiknya, keterbatasan lahan bukanlah penghalang. Berbagai teknik kreatif seperti vertikultur dan hidroponik memungkinkan warga menanam di ruang yang sangat terbatas, bahkan di dinding dan atap rumah.Di banyak kota, gerakan ini tumbuh dari ruang-ruang komunitas. Bandung menghidupkan kembali kebiasaan menanam dengan polybag di tingkat RT/RW, Semarang mengembangkan pasar urban farming, sementara di Jakarta, komunitas Jakarta Berkebun dan jejaring Indonesia Berkebun aktif mengubah lahan telantar menjadi kebun produktif.Dukungan pemerintah daerah semakin memantapkan pertanian kota sebagai gerakan nyata, bukan sekadar wacana. Surabaya, misalnya, telah menerbitkan peraturan khusus tentang pertanian perkotaan dan secara agresif memanfaatkan lahan aset pemerintah sebagai kebun pangan, kolam ikan, hingga wisata edukasi. Bahkan, kota ini menargetkan hingga 60 persen kebutuhan pangannya dapat dipenuhi dari urban farming dalam beberapa tahun ke depan, dengan capaian saat ini sekitar 30 persen.Baca juga: Ketika Lahan Mengecil, Warga Bogor Hidupkan Urban FarmingFenomena urban farming bukan hanya milik Indonesia, melainkan telah menjadi gerakan global. Singapura, misalnya, sebagai negara-kota maju justru agresif mengembangkan pertanian perkotaan berteknologi tinggi melalui pertanian vertikal dan hidroponik di atap-atap gedung pencakar langit, dengan target 30 persen kebutuhan pangan nasional dipenuhi secara lokal pada 2030.Di New York City, ratusan kebun komunitas dan kebun atap berkembang pesat, memasok sayuran segar bagi warga kota. Brooklyn Grange bahkan dikenal sebagai kebun atap terbesar di dunia yang menghasilkan puluhan ton sayuran setiap tahun di tengah lanskap Manhattan.Di belahan dunia lain, Havana di Kuba menjadi contoh paling dramatis, dimana pascakrisis ekonomi 1990-an, warga beralih besar-besaran ke pertanian kota, hingga kini sekitar 90 persen buah dan sayuran dikonsumsi penduduknya ditanam di dalam kota. Sementara di Tokyo, teknologi indoor farming berlampu LED mampu memproduksi ribuan sayuran setiap hari, tanpa bergantung musim dan cuaca.Berbagai kisah sukses tersebut membuktikan bahwa keterbatasan lahan dan padatnya penduduk bukan penghalang untuk membangun kedaulatan pangan.Kota cerdas masa kini tidak lagi hanya berbicara tentang transportasi dan digitalisasi, tetapi juga tentang produksi pangan berkelanjutan dan kualitas lingkungan hidup. Tren global menunjukkan semakin terintegrasinya pertanian dalam desain kota modern. Gedung bertingkat dengan dinding hijau penuh tanaman, pusat perbelanjaan dengan kebun atap untuk menyuplai restoran, hingga insentif pajak bagi pemilik lahan yang mengalihfungsikan lahannya menjadi kebun komunitas.
(prf/ega)
Lahan Perkotaan: Tanah yang Terlupakan
2026-01-12 06:53:04
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 06:08
| 2026-01-12 05:40
| 2026-01-12 05:18
| 2026-01-12 04:38
| 2026-01-12 04:31










































