Hari Ibu dan Jatuh Bangun Rina Zainun: Ditolong Preman hingga Pelindung Perempuan Kaltim

2026-01-12 03:38:53
Hari Ibu dan Jatuh Bangun Rina Zainun: Ditolong Preman hingga Pelindung Perempuan Kaltim
SAMARINDA, - Rina Zainun, pimpinan Tim Reaksi Cepat (TRC) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kalimantan Timur (Kaltim) perlu menatap jauh ketika harus memaknai apa itu hari ibu.Perempuan berusia 45 tahun melihat foto ketiga anaknya yang terpajang di dinding rumah. Ia memang bukan seorang figur publik. Bukan pejabat. Bukan pula tokoh terkenal. Namun, dia sudah ditempa dengan berbagai keadaan. Mulai dari ditolong preman hingga menjadi garda terdepan penyelamat anak dan perempuan.“Saya cuma ingin hidup layak dengan anak-anak. Tidak lebih,” ucapnya perlahan.Rina lahir dari keluarga besar di Kutai. Ayahnya seorang kapten kapal, ibunya penjual kue.Rumah kecil mereka kala itu tidak pernah sepi dari tamu yang bukan keluarga.Sosok ibunya begitu peduli terhadap sesama. Mulai dari anak yatim, anak telantar, bahkan orang mabuk yang tidur di kuburan pun dibawa pulang untuk dimandikan.Baca juga: Perayaan Hari Ibu yang Menyentuh Hati Oma di Wisma Mulia“Rumah kami seperti rumah singgah,” katanya mengenang.Anak keenam dari sepuluh bersaudara itu masih ingat betul, masa kecilnya didik dengan disiplin dan empati, yang kelak akan menjadi modal hidup ketika ia berdiri sebagai perempuan dewasa.Perjuangan Rina sebagai sosok ibu tangguh dimulai 1999, ketika ia mengawali masa pernikahan. Saat itu, ia memutuskan hidup mandiri bersama sang suami dengan tinggal di kontrakan kecil. Bahkan, sampai berbohong kepada orang tuanya bahwa itu fasilitas kantor.Baca juga: Menabung Harapan, Menyulam Solidaritas Warga: Kisah Ibu-ibu Membangun Bank Sampah Saring SerojaKehidupan di sana cukup berat. Penghasilan suaminya tersisa sedikit karena utang masa lalu.Mereka pernah makan satu bungkus mi berdua dalam sehari, dan Rina menutup kebenaran itu dari orang tuanya.Makan kenyang hanya bisa ia rasakan setiap Jumat. Ketika pulang ke rumah ibunya.  Sang ibu juga selalu menyelipkan beras atau uang ke tas Rina tanpa sepengetahuan menantunya.Rina menyimpan semua itu sendirian, mencoba menjaga martabat suaminya yang sedang berjuang.Sampai suatu hari, kontrakan itu terbakar. Kini, giliran para preman yang pernah ia tolong menunjukkan kebaikan. Preman-preman itu yang menyelamatkan barang-barang.Mereka menggotong lemari, mengeluarkan berkas penting, menahan api hingga petugas datang.Baca juga: Kisah Ibu di Karanganyar Mendidik Dua Anak Gifted Children: Sempat Hilang Arah, Sekarang Jadi Teman Diskusi“Saya menangis, bukan karena rumah terbakar, tapi karena orang-orang yang tidak saya sangka justru menolong saya,” ucapnya.Setelah itu, ia hidup lagi dari nol. Kembali ke rumah orang tua. Menabung pelan-pelan, hingga mampu membeli rumah sederhana.


(prf/ega)