DALAM novelnya yang terkenal "1984", George Orwell menulis “War is peace. Freedom is slavery. Ignorance is strength.” Ia tahu tirani paling kuat bukan yang membungkam suara, tetapi yang mengubah makna kata.Kini, Soeharto resmi menjadi Pahlawan Nasional, kita kembali melihat bagaimana kekuasaan memakai bahasa untuk menipu ingatan, menjadikan pelanggaran terdengar seperti jasa, dan penindasan tampak seperti pengabdian.Gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto bukan soal jasa, tetapi soal keberanian menyebut pelanggaran sebagai pelanggaran. Ia menguji apakah bangsa ini masih mampu berdiri di sisi kebenaran atau sudah terlalu letih untuk mengingat.Kementerian Sosial menyebut penetapan Soeharto sebagai bagian dari mekanisme resmi. Golkar menegaskan bahwa usulan ini hasil keputusan partai dan sudah disampaikan langsung kepada Presiden.Kata mekanisme terdengar netral, tetapi dalam politik ia bekerja sebagai selimut yang menutupi niat.Presiden Prabowo Subianto menyetujui dan menetapkan keputusan tersebut. Keputusan itu bukan sikap pasif, melainkan cara halus menunjukkan seberapa jauh publik masih punya daya tolak terhadap amnesia.Baca juga: Soeharto, Pahlawan Bangsa PemaafSoeharto pernah menguasai republik ini dengan cara yang tidak selalu tampak. Ia menjadikan ketakutan sebagai bagian dari keseharian dan kepatuhan sebagai bentuk kewarasan politik. Ia mengatur agar rasa gentar terhadap kekuasaan dianggap wajar.Dua puluh tujuh tahun setelah ia tumbang, bayangan itu dipanggil kembali bukan lewat pasukan, tetapi lewat penghormatan.Jika dulu kekuasaan menundukkan rakyat lewat represi, kini kekuasaan mencoba menundukkannya lewat nostalgia.Dalam masyarakat yang terbiasa tunduk, tirani tidak mati bersama penguasanya. Ia hidup dalam cara kita mengingat.Argumen pembenaran selalu diulang. Soeharto disebut pembangun ekonomi, penekan inflasi, penyelamat bangsa dari kekacauan. Namun, pertanyaan yang tidak pernah dijawab adalah stabilitas untuk siapa? Inflasi memang turun, tetapi harga yang dibayar adalah kebebasan.Pembangunan memang berjalan, tetapi berdiri di atas tanah yang dirampas dan suara yang dibungkam.Negara tumbuh di atas ketakutan rakyat yang dipelihara sebagai fondasi stabilitas. Dalam ketenangan yang diklaim sebagai keberhasilan, kebebasan warga dikorbankan agar kekuasaan tetap abadi.Catatan sejarah tidak memberi ruang bagi penyangkalan. Komnas HAM mencatat belasan peristiwa pelanggaran berat yang tidak pernah diselesaikan.
(prf/ega)
Soeharto dan Ujian Ingatan Bangsa
2026-01-11 04:10:05
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 04:05
| 2026-01-11 03:49
| 2026-01-11 03:10
| 2026-01-11 03:00
| 2026-01-11 01:52










































