JAKARTA, - Kementerian Perhubungan RI memetakan sejumlah wilayah yang diperkirakan menjadi titik rawan macet selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/26.Pemetaan ini berdasarkan survei pergerakan nasional yang menunjukkan konsentrasi perjalanan pada jalur-jalur tertentu, baik di ruas bebas hambatan atau tol maupun arteri, termasuk jalur alternatif.Menteri Perhubungan RI Dudy Purwagandhi menyampaikan bahwa puncak perjalanan diprediksi akan berlangsung pada dua hari utama, yaitu 24 Desember 2025 dan 2 Januari 2026 mendatang. “Puncak perjalanan diperkirakan terjadi pada Rabu, 24 Desember 2025, untuk arus keberangkatan dan Jumat, 2 Januari 2026, untuk arus balik atau kepulangan,” kata Dudy dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi V DPR RI yang dikutip Rabu .Baca juga: MAB Akan Produksi Mobil Listrik Solarky SunVShutterstock/Catwalk Photos ILUSTRASI: Kemacetan“Tanggal-tanggal tersebut selanjutnya akan menjadi fokus pembatasan lalu lintas, penambahan layanan, dan pengaturan operasional transportasi,” ujarnya.Pada hari puncak keberangkatan, 24 Desember, mayoritas masyarakat memilih berangkat pada pukul 07.00 WIB hingga 09.00 WIB.Untuk arus balik pada 2 Januari, preferensi jam kepulangan juga terkonsentrasi pada rentang 07.00 hingga 09.59 WIB. “Sehingga kecenderungan pemilihan jam, baik keberangkatan maupun kepulangan, akan menjadi dasar pengaturan operasional terminal, stasiun, bandara, dan pelabuhan serta jam-jam puncak,” kata Dudy.Lebih lanjut, survei menunjukkan bahwa pengguna sepeda motor diperkirakan mencapai 22 juta orang, dan 26,54 persen atau sekitar 5,84 juta orang akan bergerak di jalur arteri dan jalur utama.Jalur yang diperkirakan padat tersebar di Jawa Timur, meliputi Mojokerto, Jombang, Madiun, Malang, dan Sidoarjo.Baca juga: Pindad Siapkan Pabrik Mobil Nasional di Subang, Produksi 500.000 Unitscreenshoot/DPR RI Survei nasional Kemenhub untuk pergerakkan kendaraan selama Nataru 2025/26Berdasarkan peta pergerakan, sejumlah ruas arteri di wilayah tersebut berpotensi mengalami kepadatan panjang.Aktivitas masyarakat lokal, akses antar-kabupaten, dan rute ke kawasan wisata memperbesar kemungkinan terjadinya antrean dan perlambatan laju kendaraan.Untuk pengguna mobil, kecenderungan beralih ke jalan tol semakin dominan, di mana 53,79 persen atau sekitar 27,5 juta orang dari total pemudik 51,21 juta orang memilih melintasi ruas tol utama, terutama koridor Bandung–Cikampek–Bogor.Tol Jakarta–Cikampek diperkirakan dilalui oleh 5,32 juta orang, Tol MBZ Sheikh Mohammed Bin Zayed oleh 3,26 juta orang, dan akses menuju Karawang hingga Cikampek diperkirakan mengalami peningkatan volume kendaraan secara signifikan.Kepadatan juga mungkin meluas ke jalur menuju Bogor dan kawasan Puncak melalui ruas tol Jakarta-Bogor-Ciawi, yang diperkirakan dilalui oleh 5,15 juta orang, terutama bagi masyarakat yang melakukan perjalanan wisata.Baca juga: Kemenhub Imbau Tak Mudik Nataru 2025/26 dengan Sepeda MotorKOMPAS/PRIYOMBODO Ilustrasi kemacetan jalanan Jakarta.Sementara pemudik yang menuju Semarang-Solo diprediksi mencapai 3,68 juta orang, Makassar (seksi IV) 1,89 juta orang, Tangerang-Merak 1,86 juta orang, dan Malang sebanyak 1,69 juta orang.“Sehingga, baik jalur arteri maupun jalur tol, potensi kemacetan pada beberapa titik rawan perlu diantisipasi melalui rekayasa lalu lintas dan penambahan fasilitas layanan atau peristirahatan,” katanya.Kemenhub bersama kepolisian dan operator jalan tol menyiapkan pengaturan dinamis, termasuk pengelolaan rest area, penyesuaian arus, hingga manajemen waktu perjalanan pada jam-jam sibuk.
(prf/ega)
Prediksi Wilayah Rawan Macet Nataru 2025/26
2026-01-12 04:39:56
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 05:05
| 2026-01-12 04:09
| 2026-01-12 03:55
| 2026-01-12 02:40










































