Pakar UGM Ungkap Penyebab Banjir Sumatera, dari Dosa Ekologis hingga Anomali Siklon

2026-01-12 06:41:34
Pakar UGM Ungkap Penyebab Banjir Sumatera, dari Dosa Ekologis hingga Anomali Siklon
– Indonesia kembali tertimpa bencana. Kali ini, wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dilanda banjir bandang dan tanah longsor pada pekan lalu.Peristiwa banjir bandang ini kembali mengingatkan bahwa Pulau Sumatera menyimpan jejak panjang kebencanaan, mulai dari faktor geologis, perubahan ekologi, hingga pengaruh iklim ekstrem.Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Ir. Hatma Suryatmojo, S.Hut., M.Si., IPU., menjelaskan, struktur geomorfologi Sumatera membuat wilayah ini rawan terhadap banjir besar, terutama saat intensitas hujan tinggi.Baca juga: Presiden Prabowo Setujui Bantuan Rp 60 Juta Per Rumah untuk Pengungsi Banjir Sumatera“Lereng-lereng terjal dari Aceh hingga Lampung mengalirkan air langsung ke dataran rendah. Banyak masyarakat kini tinggal di wilayah kipas vulkanik yang sebenarnya jalur alami aliran air,” kata Hatma dalam diskusi Pojok Bulaksumur UGM, Kamis .Dikatakan Hatma, saat hujan lebat turun, lereng-lereng tersebut mengalirkan air dengan kecepatan tinggi dan membawa material dalam jumlah besar, sehingga menjadikan banjir di Sumatera.Pakar dari UGM tersebut menilai bahwa salah satu penyebab utama banjir bandang ialah kerusakan ekologis. Pembukaan lahan di hulu, ekspansi pemukiman ke dataran tinggi, dan alih fungsi hutan telah memperparah limpasan air permukaan.“Hilangnya hutan membuat tanah kehilangan daya serap. Debit puncak air tak bisa dikendalikan. Para pihak yang menjadi kontributor dosa ekologis itu sudah saatnya berhenti,” tegasnya.Secara alami, hutan mampu menahan air hujan dalam jumlah besar. Dalam kondisi ideal, sepertiga air tertahan di tajuk pohon dan lebih dari separuh meresap ke dalam tanah.Baca juga: Berkaca dari Bencana Sumatera: DPR Minta Pindad Produksi Alat Berat untuk EvakuasiTanpa tutupan hutan, seluruh air langsung mengalir ke sungai dalam waktu bersamaan, menyebabkan lonjakan debit secara drastis.“Neraca air berubah total dan menyebabkan debit puncak meningkat drastis,” ujar Hatma.Sementara itu, mantan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D., menambahkan bahwa perubahan iklim memperbesar risiko bencana alam yang sudah tinggi secara alami.Peningkatan suhu global sebesar 1,55 derajat Celsius memicu makin seringnya hujan ekstrem. Bila tren ini terus berlangsung, suhu bumi bisa naik hingga 3,5 derajat Celsius pada akhir abad ini.“Dengan curah hujan ratusan milimeter per hari, sistem hidrologi di Sumatera tidak mampu meredam laju air. Kalau mitigasi ekologinya dilewatkan, kita bisa musnah,” kata Dwikorita.Baca juga: Indonesia Jadi Negara Penghasil Kelapa Sawit Terbesar di Dunia, Sumatera PusatnyaDwikorita juga menyoroti kondisi geologi Sumatera yang sangat labil.Batuan yang terbentuk akibat tumbukan lempeng dari dasar laut banyak yang mengalami retakan. Struktur ini rentan longsor jika diguncang gempa, bahkan yang berskala kecil.


(prf/ega)