SEMARANG, – Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyebut kultur dan budaya sebagai faktor penyebab utama deforestasi yang memicu rangkaian bencana besar di Sumatra hingga menelan lebih dari 1.000 korban jiwa.Pernyataan tersebut disampaikan Hanif saat memberikan sambutan pada kegiatan UI GreenMetric Indonesia 2025 di Muladi Dome, Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, Selasa .“Hari ini kita juga patut prihatin, 1.000 lebih jiwa melayang karena bencana di Sumatera, lebih dari 20-an ribu orang yang kemudian harus terluka, kemudian jutaan orang yang harus mengungsi dan terdampak dalam kasus ini,” ujar Hanif.Baca juga: Deforestasi Secara Masif, Walhi: Jatim Berpotensi Banjir Bandang dan Longsor Seperti SumateraHanif menegaskan bahwa bencana yang terjadi tidak bisa dilepaskan dari perilaku manusia yang membentuk pola kerusakan lingkungan secara sistematis.Ia mengaku telah melakukan peninjauan langsung ke sejumlah wilayah di Sumatera untuk menelusuri akar persoalan di balik bencana yang terjadi berulang.“Saya hampir 10 hari ini melakukan fly over mulai dari Sumatera Utara, Sumatera Barat dengan Aceh untuk melihat secara langsung apa masalahnya dari bencana yang saling disengketakan, saling dinarasikan, dengan data-data yang seharusnya dikomparasi dengan data lapangan,” katanya.Dari hasil peninjauan tersebut, Hanif menyebut faktor antropogenik sebagai penyebab paling dominan yang memperparah bencana.“Mulai dari antropogenik kita, dari kultur kita, budaya kita yang telah melakukan kegiatan deforestasi yang cukup luas,” tegasnya.Baca juga: Kala Korban Bencana Aceh Minta Bantuan ke Dunia Internasional...Menurut Hanif, praktik deforestasi yang berlangsung lama dan masif telah menggerus daya dukung lingkungan, sehingga wilayah-wilayah di Sumatera semakin rentan ketika menghadapi cuaca ekstrem.Selain faktor manusia, Hanif juga menyinggung kondisi geomorfologi Sumatera bagian utara yang dinilainya tidak stabil, sehingga mudah terdampak ketika terjadi tekanan lingkungan.Ia juga menyoroti faktor hidrometeorologi, yang kini semakin terasa akibat perubahan iklim global.“Kita berada di daerah tropis. Kemudian kita merupakan daerah kepulauan. Sehingga dengan demikian kita merupakan negara yang sangat riskan dengan perubahan iklim ini,” ujarnya.Hanif menegaskan bahwa bencana di Sumatera harus menjadi titik balik untuk mengevaluasi arah kebijakan lingkungan dan tata ruang, khususnya di provinsi-provinsi terdampak.“Inilah yang kemudian mengharuskan kami diskusi dengan teman-teman universitas untuk mengkaji ulang kajian lingkungan hidup strategis, sebagai landasan penyusunan tata ruang di provinsi ketiga provinsi tersebut,” ungkapnya.Ia menyebut Kementerian Lingkungan Hidup telah menerbitkan keputusan menteri untuk melakukan evaluasi tata ruang di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh.
(prf/ega)
Menteri LH Sebut Faktor Kultur dan Budaya Picu Deforestasi dan Bencana di Sumatera
2026-01-12 16:36:59
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 16:29
| 2026-01-12 16:16
| 2026-01-12 15:00
| 2026-01-12 14:57
| 2026-01-12 14:09










































