Belum Tercover Bantuan Penggusuran dari Dedi Mulyadi, Warga Indramayu Minta Tolong

2026-02-02 14:07:30
Belum Tercover Bantuan Penggusuran dari Dedi Mulyadi, Warga Indramayu Minta Tolong
INDRAMAYU, - Sejumlah warga Desa Eretan Wetan, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, yang tinggal di bantaran sungai mengaku belum menerima bantuan dampak penggusuran dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan warga yang rumahnya berada di area bantaran sungai dan akan terdampak pembangunan tanggul sungai untuk mengatasi banjir rob.Warga yang belum tercover bantuan membuat video sebagai upaya agar kondisi mereka diketahui Pemerintah Provinsi Jawa Barat.Baca juga: Libur Nataru, Pantai Bali 2 Indramayu Siapkan Wahana Baru Mandi SaljuDalam video tersebut, mereka berharap mendapat perlakuan yang sama seperti warga lain yang sudah menerima bantuan.Ketua Aliansi Warga Eretan Wetan, Supriyanto menyatakan, ada sekitar 20 rumah warga yang belum menerima bantuan relokasi sementara."Kurang lebih ada sekitar 20 rumah yang belum tercover," ujar Supriyanto saat dihubungi Kompas.com, Minggu .Menurut Supriyanto, warga yang belum menerima bantuan diduga terlewat saat proses verifikasi, meskipun telah menyerahkan persyaratan yang diminta pemerintah desa.Kekhawatiran warga semakin bertambah setelah tetangga mereka di sisi kanan dan kiri rumah  sudah menerima bantuan Rp 10 juta per orang untuk biaya mengontrak rumah sembari menunggu pembangunan kampung nelayan rampung.Baca juga: Dedi Mulyadi Mengaku Sering Ingatkan Bupati Bekasi Jauhi Praktik KorupsiDi sisi lain, Supriyanto mengapresiasi langkah Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang telah memberikan solusi bagi warga terdampak banjir rob.Ia menilai kebijakan tersebut sangat tepat dan membantu warga.Namun, pihaknya juga berharap pemerintah dapat memberikan perhatian kepada warga yang hingga kini belum terdata sebagai penerima bantuan.Supriyanto menggambarkan kondisi warganya saat ini berada dalam dilema.Mereka tidak bisa menghalangi petugas yang akan melakukan penggusuran, namun di sisi lain khawatir kehilangan tempat tinggal tanpa kompensasi."Semua orang kan menganggapnya warga yang ada di bantaran sungai sudah menerima bantuan semua, tapi kenyataannya masih ada yang belum," kata Supriyanto.Dalam video yang diterima Kompas.com, salah seorang warga bernama Aspiyah mengaku rumahnya yang berada tepat di bantaran sungai akan terdampak penggusuran.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Sekali lagi melihatnya sekali mungkin tidak menjadi tantangan, tetapi melihatnya berkali-kali bisa mendistorsi pandangan anak tentang body image mereka sendiri, ujar Graham.Ada beberapa konten yang dibatasi oleh YouTube untuk dikonsumsi pra-remaja dan remaja secara berulang, salah satunya konten dengan topik yang membahas tentang perbandingan ciri fisik seseorang.Kemudian topik yang mengidealkan beberapa tipe fisik, mengidealkan tingkat kebugaran atau berat badan tertentu, serta menampilkan agresi sosial seperti perkelahian tanpa kontak dan intimidasi.Selanjutnya adalah topik yang menggambarkan remaja sebagai sosok yang kejam dan jahat, atau mendorong remaja untuk mengejek orang lain,menggambarkan kenakalan atau perilaku negatif, dan nasihat keuangan yang tidak realistis atau buruk.Inilah mengapa YouTube bekerja sama dengan pemerintah dan para ahli, dalam hal ini Kemenkomdigi RI, psikolog, dan psikiater.Mereka adalah para panutan yang telah benar-benar mendorong kemajuan tentang bagaimana kita bisa meningkatkan informasi seputar kesehatan mental, ucap Graham.Kompas.com / Nabilla Ramadhian Tampilan fitur Teen Mental Health Shelf di YouTube.Berkaitan dengan kolaborasi tersebut, Graham mengumumkan bahwa pihaknya meluncurkan fitur Teen Mental Health Shelf, yang dirancang khusus untuk membantu menjaga kesehatan mental remaja.Baca juga: Ribuan Iklan Rokok Serbu Youtube, Ruang Anak TerancamIni untuk para remaja di Indonesia yang akan menggunakan platform kami untuk mencari topik-topik sensitif seperti depresi, kecemasan, atau perundungan, jelas Graham.

| 2026-02-02 13:17