Pakar Soroti Komunikasi Pusat-Daerah Buruk, Deteksi Dini Bencana Sumatera Jadi Sia-sia

2026-01-12 04:16:55
Pakar Soroti Komunikasi Pusat-Daerah Buruk, Deteksi Dini Bencana Sumatera Jadi Sia-sia
– Tragedi bencana banjir bandang dan longsor di Sumatera yang menewaskan ratusan korban jiwa disoroti karena melibatkan kegagalan koordinasi antarlembaga.Dr. Belinda Arunarwati Margono dari Badan Informasi Geospasial (BIG) menyatakan bahwa deteksi dini sudah tersedia, tetapi bencana terus terjadi karena belum optimalnya komunikasi, interaksi, dan pemahaman antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat.Diberitakan Kompas.com, hingga Senin pukul 16.00 WIB, jumlah jenazah yang ditemukan dalam peristiwa banjir Sumatera menjadi 961 jiwa.Baca juga: Bertambah Lagi Korban Jiwa Banjir Aceh-SumateraBelinda sepakat bahwa bencana di Sumatera memiliki banyak penyebab, mulai dari kondisi fisik permukaan dan tanah (geomorfologi), cuaca ekstrem, hingga faktor manusia.Namun, ia menyoroti bahwa permasalahan utama terkendala karena belum optimalnya interaksi dan pemahaman antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat.Belinda menegaskan bahwa kegagalan koordinasi membuat informasi deteksi dini menjadi sia-sia.“Komunikasi antara pemerintah pusat dan daerah belum terbangun sehingga deteksi dini sudah ada, tetapi tidak ada mekanisme termasuk kepedulian atau pemahaman faktor-faktor ini membuat bencana tetap terjadi,” katanya dikutip dari laman resmi UGM.Baca juga: Siapa yang Bertanggung Jawab atas Bencana Sumatera? Ini Kata Pakar Lingkungan UISelain faktor koordinasi, Guru Besar Fakultas Kehutanan UGM Prof. Ambar Kusumandari mempertegas bahwa secara fisik, risiko kebencanaan di tiga provinsi tersebut—Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat—memang sudah tinggi.Ambar menjelaskan, secara morfometri Daerah Aliran Sungai (DAS), ketiga wilayah tersebut sedari awal mempunyai potensi kebencanaan yang tergolong tinggi pada 4 dari 10 DAS yang sudah dikaji.Kondisi alamiah yang rapuh ini diperparah dengan geologi wilayah.Ambar menambahkan, kondisi tanah di ketiga wilayah tersebut dilewati oleh patahan sehingga memiliki kesempatan yang lebih tinggi untuk terjadi longsor setelah gempa bumi.Pakar konservasi tanah dan air UGM ini memperingatkan bahwa deforestasi masif meningkatkan ancaman bencana hidrometeorologis secara drastis.“Dengan deforestasi yang sangat cepat, bencana hidrometeorologis akan semakin meningkat yang memiliki dampak besar dari berkurangnya keanekaragaman hayati, menghilangnya sumber cadangan air,” terangnya.Baca juga: Pakar UGM Ungkap Penyebab Banjir Sumatera, Tak Cuma Curah Hujan EkstremSementara itu, Dr. Hatma Suryatmojo, selaku peneliti hidrologi hutan dari Fakultas Kehutanan UGM mengatakan bencana banjir Sumatera merupakan hasil interaksi fatal antara faktor pemicu yaitu cuaca ekstrim yang menghantam ekosistem hutan yang sudah sangat rapuh.Kapasitas alam untuk meredam bencana semakin berkurang karena deforestasi, alih fungsi lahan dan tata ruang yang belum memperhatikan aspek kerawanan bencana.“Curah hujan ekstrim memang ada dan itu menjadi pemicu awal. Sehingga kami melihat bahwa akar masalah sesungguhnya adalah perusakan ekosistem hulu sampai hilir dari daerah aliran sungai dan kelalaian tata ruang yang terjadi secara sistematik,” paparnya.Hatma merekomendasikan langkah yang perlu dilakukan yakni:“Bencana ini bukan kegagalan alam melainkan kegagalan dalam implementasi dan penegakan hukum terhadap regulasi konservasi dan juga tata ruang yang sudah ada,” ujarnya


(prf/ega)