Investasi Jakarta Tembus Rp 204 Triliun, Serap 338 Ribu Tenaga Kerja

2026-01-15 19:48:51
Investasi Jakarta Tembus Rp 204 Triliun, Serap 338 Ribu Tenaga Kerja
Jakarta Realisasi investasi di Jakarta pada triwulan III 2025 mencapai Rp 204,13 triliun, atau tumbuh 6,4 persen dibandingkan 2024. Besarnya investasi tersebut menjadikan Jakarta menduduki posisi atas sebagai magnet investasi nasional dan menyerap lebih dari 338.310 tenaga kerja.Menurut Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, Jakarta memberikan kontribusi 14,24 persen terhadap total investasi nasional. Hal ini menempatkan DKI Jakarta sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi utama di Indonesia.“Jakarta mempertahankan posisi sebagai magnet investasi nasional. Aktivitas investasi menyerap 338.310 tenaga kerja,” kata Pramono dalam konferensi pers APBD DKI Jakarta, Jumat 21 November 2025.AdvertisementPramono menjelaskan, meningkatnya minat investor mencerminkan kepercayaan pelaku usaha terhadap stabilitas ekonomi dan pemerintahan di Jakarta. Terlebih pertumbuhan ekonomi Jakarta yang tercatat tetap stabil disertai inflasi yang terkendali.Penyerapan tenaga kerja mencapai lebih dari 338 ribu orang berasal dari aktivitas investasi di berbagai sektor, terutama jasa, transportasi, perdagangan, serta akomodasi makanan-minuman. Sektor-sektor tersebut turut mempertegas peran Jakarta sebagai pusat aktivitas ekonomi nasional.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-15 19:44