Imbas Banjir Sumatera, Mentan Sebut 11.000 Hektar Sawah Gagal Panen

2026-01-11 22:34:51
Imbas Banjir Sumatera, Mentan Sebut 11.000 Hektar Sawah Gagal Panen
JAKARTA, - Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, mencatat ada 11.000 hektar lahan sawah yang gagal panen total alias puso, imbas bencana banjir dan longsor yang menerjang Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar).Sebanyak 11.000 hektar lahan sawah kategori puso tersebut merupakan akumulasi dari kerusakan lahan di tiga provinsi di pulau Sumatera. Kendati begitu pemerintah memastikan lahan tersebut akan segera dipulihkan melalui program cetak ulang agar produktivitas pertanian masyarakat dapat kembali pulih. “Sawah yang terdampak puso jumlahnya sekitar 11.000 hektar. Itu semua akan kami cetak ulang, dan pemerintah yang mengerjakannya. Ini tanggung jawab Kementerian Pertanian,” ujar Amran di gedung Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Kamis . Baca juga: Mentan Lepas 207 Truk Bantuan untuk Korban Banjir Sumatera, Nilainya Rp 34,8 M Pendataan terhadap seluruh lahan yang terdampak sudah dilakukan dan telah masuk dalam laporan resmi. Untuk tanaman kopi di Aceh yang mengalami kerusakan total atau puso, pemerintah memastikan akan melakukan replanting atau penanaman ulang. Seluruh tanaman yang rusak akan diganti sepenuhnya agar petani dapat kembali berproduksi dan memulihkan pendapatan mereka. “Lahan-lahan sudah kami data, sudah dilaporkan. Untuk kopi di Aceh yang mengalami kerusakan total, akan kami lakukan replanting. Semuanya akan kami ganti,” paparnya. Ia memastikan pemulihan lahan pertanian menjadi prioritas pemerintah lewat Kementerian Pertanian agar kehidupan petani kembali pulih dan ketahanan pangan tetap terjaga. “Kita akan pantau dan segera bantu. Insya Allah sektor pertanian akan kami selesaikan,” paparnya. Baca juga: Cetak Sawah Korban Banjir Sumatera, Kemenkeu: Anggaran Tersedia Terkait nilai kerugian, Amran menyebut rata-rata kerusakan lahan padi diperkirakan berada di kisaran Rp 18-20 juta, meski ia tidak merinci perhitungannya.Angka tersebut menggambarkan kerugian petani akibat tanaman rusak dan gagal panen akibat tingginya intensitas hujan yang memicu banjir dan longsor di sejumlah wilayah. “Ya kali-kali lah, katakanlah sekarang biaya kurang lebih 19-18 juta ya, 20 juta,” paparnya. Meski begitu, Amran menegaskan imbas bencana tidak akan mengganggu produksi padi secara nasional. Menurutnya meskipun total lahan terdampak di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menyentuh belasan hektar, kontribusinya terhadap produksi padi nasional hanya sekitar 0,5 persen, atau kurang dari 1 persen.Baca juga: Mentan Kirim 153 Truk Isi Sembako ke Sumatera, Bantuan Korban Banjir Mentan menegaskan persentase tersebut menunjukkan produksi padi nasional tetap aman. Dari data BPS per 1 Desember 2025 melaporkan produksi padi di Provinsi Aceh sepanjang 2025 bisa mencapai 1.751.145,98 ton, Sumatera Utara mampu menghasilkan padi dengan volume 2.741.597,98 ton, dan Sumatera Barat sebesar 1.367.262,10 ton. Berdasarkan data dari Kerangka Sampel Area (KSA) Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras periode Januari-Desember 2025 diprediksi meningkat 13,54 persen menjadi 34,77 juta ton. Sampai November 2025 realisasi sudah 33,19 juta ton. Angka ini melebih target yang ditetapkan sebesar 32 juta ton.


(prf/ega)