JAKARTA, - Pemerintah tidak mempermasalahkan bantuan asing yang masuk ke Aceh, pasca wilayah itu dilanda banjir bandang dan tanah longsor.Bantuan tersebut bukanlah sesuatu yang perlu dipersoalkan, meski hingga kini negara tidak menetapkan status bencana di wilayah itu sebagai bencana nasional.Pemerintah hanya memastikan bahwa penanganan bencana tetap pada level nasional.Adapun bantuan asing tersebut berasal dari negara tetangga, Malaysia dan China. Masuknya bantuan dikonfirmasi oleh Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem.Menurut Mualem, bantuan dari luar negeri merupakan hal yang sah-sah saja dan tidak ada larangan demi penanganan pascabencana di Aceh.Baca juga: Pemulihan Pascabencana, Gubernur Mualem Ajak Pengusaha: Aceh Harus Kita Bangun BersamaLagipula masih banyak kebutuhan mendesak yang diperlukan para korban banjir dan longsor di Aceh.Bantuan dari Malaysia berbentuk obat-obatan dan lain-lain, sementara bantuan dari China berupa tim pendeteksi jenazah dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) setempat.Bantuan obat-obatan tersebut kini telah disalurkan. Begitu pun tim pendeteksi mayat, yang kini sudah berada di lapangan untuk mengevakuasi jenazah tertimbun lumpur."Tersalurkan semuanya bahkan tidak cukup, dan mereka bahkan dalam beberapa hari ini, hari Rabu akan datang membawa obat sebanyak 3 ton lagi, bersamaan dengan dokter," katanya saat diwawancarai awak media usai rapat terbatas bersama Presiden di Posko Pangkalan TNI AU Sultan Iskandar Muda, (Minggu 7/12/2025) malam.Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin menyatakan bahwa bantuan tersebut merupakan bantuan personal yang diterima oleh pemerintah provinsi Aceh dan tidak melalui pemerintah pusat.“Sebetulnya yang dimaksud itu adalah personal yang dari Cina itu, itu bukan bantuan asing, itu bantuan personal kepada Mualem yang mau mencari jasad-jasad dari para korban bencana,” katanya di Makassar, Selasa .Sjafrie bilang, secara keseluruhan, pemerintah pusat mampu menanggulangi penanganan bencana secara mandiri di tiga provinsi yang terdampak banjir dan longsor tersebut.Baca juga: Belajar dari Gubernur AcehPresiden Prabowo Subianto juga telah mengevaluasi sistem penanggulangan bencana alam, di mana bencana yang ada di Sumatera dan Aceh dapat diatasi oleh negara sendiri.Pemerintah mempunyai kemampuan peralatan sendiri, mulai dari angkatan darat, laut, maupun udara.“Kita mempunyai logistik yang cukup, kita punya obat-obatan yang cukup, kita mempunyai tenaga medis yang sangat memberi bantuan yang berasal dari kampus-kampus, dari universitas. Dan ini kita kolaborasikan menjadi satu sistem penanggulangan bencana,” jelasnya.ANTARA FOTO/Irwansyah Putra Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) jinak yang ditunggangi mahout membersihkan puing kayu yang menutupi jalan dan permukiman warga akibat bencana alam di Desa Meunasah Bie, Pidie Jaya, Aceh, Senin . Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh mengerahkan empat ekor gajah jinak untuk membantu membersihkan puing kayu yang menutupi rumah penduduk pascabencana banjir bandang di Kabupaten Pidie Jaya.
(prf/ega)
Bantuan Mancanegara Masuk Aceh Bukan Hal yang Perlu Dipersoalkan...
2026-01-13 07:01:25
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-13 07:04
| 2026-01-13 07:03
| 2026-01-13 06:14
| 2026-01-13 04:48
| 2026-01-13 04:43










































