Prabowo ke PM Australia: Tetangga Baik Akan Saling Bantu Saat Sulit

2026-02-02 08:16:59
Prabowo ke PM Australia: Tetangga Baik Akan Saling Bantu Saat Sulit
JAKARTA, - Presiden Prabowo Subianto menekankan bahwa Indonesia dan Australia adalah negara tetangga yang baik dan akan saling membantu saat sulit.Hal ini disampaikan Prabowo kepada Perdana Menteri (PM) Australia Anthony Albanese dalam pernyataan bersama di atas Kapal HMAS Canberra, Australia, Rabu , sesaat setelah keduanya mengumumkan perjanjian keamanan baru."Saya percaya pada kebijakan tetangga yang baik. Tetangga yang baik itu penting. Tetangga yang baik akan saling membantu di masa sulit," kata Prabowo, dikutip dari tayangan YouTube Sekretariat Presiden, Rabu.Baca juga: Didampingi PM Australia, Prabowo Tinjau Kapal Perang HMAS CanberraPrabowo lantas menyinggung budaya bertetangga di Indonesia.Masyarakat Indonesia seringkali mengutip sebuah pepatah bahwa tetangga yang akan membantu lebih dulu ketika seseorang menghadapi keadaan darurat."Ketika kita menghadapi keadaan darurat, tetangga lah yang akan membantu kita. Mungkin saudara kita akan tetap jauh, tetapi tetangga kita adalah yang paling dekat. Dan hanya tetangga yang baik yang akan saling membantu," ucap Prabowo.Baca juga: Prabowo Guyoni PM Australia: Intelijenmu Sangat Bagus, Tahu Saya Suka BagpipeLebih lanjut, Prabowo menyampaikan komitmen untuk bekerja sama erat di bidang pertahanan dan keamanan pada dasarnya menegaskan kembali tekad Indonesia untuk meningkatkan persahabatan.Ia mengatakan, Indonesia sebagai mitra dan tetangga dekat Australia akan menjaga hubunganbaik demi meningkatkan dan menjamin keamanan kedua negara."Saya pikir pada dasarnya itulah tujuannya. Saya sudah berkali-kali mengatakan bahwa kita tidak bisa memilih tetangga kita, terutama negara-negara seperti kita. Sudah menjadi takdir kita untuk bertetangga langsung. Jadi, marilah kita hadapi takdir kita dengan niat terbaik," kata Prabowo.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-02 07:03