Cerita Pilot Pesawat Jatuh di Karawang: Mesin Rusak di Ketinggian 5.500 Kaki

2026-01-14 22:31:31
Cerita Pilot Pesawat Jatuh di Karawang: Mesin Rusak di Ketinggian 5.500 Kaki
Pesawat jenis GA28 Airplane (sebelumnya disebut Cessna) milik PT Wise Air mendarat darurat di area persawahan di Karawang, Jawa Barat. Pilot pesawat tersebut bercerita detik-detik pesawat mengalami gangguan teknis di tengah penerbangan.Pesawat tersebut direncanakan mendarat di daerah Cirebon. Pilot pesawat, Kapten Eko Agus Nugroho, mengatakan mesin pesawat tiba-tiba mati di ketinggian 5.500 kaki."Saat pesawat sudah mencapai ketinggian 5.500 kaki, secara tiba-tiba mesin pesawat seperti tidak bertenaga, 'loss power'," katanya saat berbincang-bincang dengan Bupati Karawang Aep Syaepuloh beserta jajaran Forkopimda dilansir Antara, Sabtu (22/11/2025).Keterangan itu disampaikan Kapten Eko saat rombongan Bupati Karawang meninjau lokasi jatuhnya pesawat pada Jumat (21/11) sore. Kapten Eko menyebut usai mengalami loss power, pesawat turun dengan sangat cepat dari ketinggian 5.500 kaki ke ketinggian 500 kaki.Kapten Eko kemudian memutuskan untuk melakukan pendaratan darurat di areal persawahan Dia menyebut pesawat itu lepas landas dari Bandara Budiharto Tangerang menuju Bandara Cakrabuana Cirebon pada pukul 13.50 WIB.Lima orang awak yang berada di dalam pesawat berhasil selamat. Mereka langsung mendapatkan pemeriksaan oleh tim medis setempat. Tidak ada luka serius yang dilaporkan.Kabid Humas Polda Jawa Barat Kombes Hendra Rochmawan menjelaskan bahwa pesawat lepas landas dari Bandara Budiharto, Tangerang, dengan tujuan Bandara Cakrabuana, Cirebon. Di tengah perjalanan pesawat mengalami gangguan teknis."Diduga akibat technical error berupa loss power kemudian Pesawat mendarat darurat sekitar pukul 14.20 WIB di pesawahan Dusun Waluya, Desa Kertawaluya, Kecamatan Tirtamulya, Kabupaten Karawang," kata Hendra dilansir detikJabar, Jumat (21/11).Semua awak pesawat dipastikan selamat. Kelima kru pesawat juga tidak mengalami cedera serius.Berikut identitas lima awak pesawat:PilotEko Agus Nugroho, 46 tahunCo-pilotIbnu Barkah Romadioni, 33 tahunTeknikRizky Dwi Andrea, 38 tahunNur Andi Lesmana, 30 tahunKru CadanganWilmar Eko Baryano, 48 tahun


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-14 22:09