Jika Distribusi Bantuan Lambat, Ini Dampak Sosial Pasca-Banjir Sumatera

2026-01-12 03:54:54
Jika Distribusi Bantuan Lambat, Ini Dampak Sosial Pasca-Banjir Sumatera
- Fase awal bencana seringkali ditandai dengan menguatnya solidaritas dan gotong royong antarwarga, sebuah respons alami masyarakat desa dalam menghadapi krisis.Namun, seiring berjalannya waktu pascabencana banjir Sumatera, kekuatan sosial tersebut memasuki masa ujian yang disebut ahli sebagai kelelahan kolektif.Pakar Sosiologi Pedesaan IPB University, Dr Ivanovich Agusta, memaparkan bahwa bencana membawa disrupsi mendadak dalam struktur sosial, dan pemulihan jangka menengah menjadi penentu kohesi sosial.Baca juga: Deforestasi Bukan Sekadar Penyebab Banjir: Ia Pemanas Bumi yang Kita Biarkan Menyala“Gotong royong biasanya sangat kuat di fase awal bencana, ketika warga saling menyelamatkan dan membantu. Namun dalam jangka menengah, kelelahan kolektif dan ketidakpastian pemulihan dapat melemahkan solidaritas,” kata Dr Ivanovich Agusta dikutip dari laman resmi IPB University.Bencana seperti banjir Sumatera bukan hanya merusak fisik rumah, tetapi juga merusak sistem sosial yang menjaga kerekatan dan identitas desa.Pascabencana, masyarakat desa mengalami disrupsi mendadak dalam struktur sosial dan relasi antarwarga.Salah satu dampak nyata adalah dislokasi sosial, yakni hilangnya ruang-ruang komunal seperti balai desa, mushala, pasar, hingga jalan yang selama ini menjadi pusat interaksi masyarakat.“Ketika ruang-ruang itu hilang, ritme kehidupan desa terputus. Interaksi melemah, komunikasi terganggu, dan solidaritas sosial ikut teruji,” jelasnya.Selain dislokasi ruang-ruang komunal yang memutus ritme interaksi warga, dampak sosial yang paling krusial adalah tergerusnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan lembaga penyalur bantuan.Ivanovich menjelaskan, kecepatan, ketepatan, dan transparansi respons bencana menjadi faktor utama yang menentukan tingkat kepercayaan.“Jika bantuan cepat dan adil, kepercayaan menguat. Jika lambat dan tidak jelas, yang muncul justru frustrasi dan apatisme,” tambahnya.Frustrasi dan apatisme ini sangat rentan memicu konflik sosial dan kecemburuan, yang dipicu oleh ketidakjelasan data korban, minimnya transparansi, serta bantuan yang tidak merata.Keterlibatan pemimpin lokal juga dapat dipersepsikan negatif jika dianggap memprioritaskan kelompok tertentu.Dr Ivanovich Agusta menekankan bahwa pemulihan masyarakat pascabencana banjir Sumatera harus dilakukan secara menyeluruh (holistik), bukan hanya fokus pada fisik.Dampak sosial yang harus segera diatasi adalah penguatan pemulihan psikososial dan pengaktifan kembali pranata sosial.


(prf/ega)