JAKARTA, - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali mengeluarkan peringatan tegas terkait perkembangan bibit siklon tropis 91S yang mulai terbentuk di Samudera Hindia, di sebelah barat Lampung.Kemunculan bibit siklon ini dinilai dapat memengaruhi kondisi cuaca di sejumlah wilayah Sumatera.Peringatan tersebut dirilis setelah pemantauan terbaru menunjukkan adanya penguatan pola atmosfer yang berpotensi memicu peningkatan intensitas hujan.Ahli Klimatologi dan Perubahan Iklim Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, angkat bicara menyikapi rangkaian bencana banjir bandang dan badai siklon yang melanda sejumlah daerah di Tanah Air.Baca juga: Siklon Tropis Senyar Bukan Satu-satunya Biang Keladi Banjir SumateraIa menilai, tanpa perubahan strategi mitigasi dan pengelolaan lingkungan yang lebih serius, Indonesia berpotensi “jatuh di lubang yang sama” setiap tahun.Menurut Erma, fase tanggap darurat yang berkepanjangan di banyak wilayah merupakan tanda bahwa tragedi utama telah memantik krisis lanjutan, mulai dari keterbatasan akses pangan hingga ancaman kesehatan masyarakat.“Saya khawatir tragedi ini akan melahirkan tragedi-tragedi berikutnya. Indikasinya sudah terlihat, mulai dari kelaparan hingga kondisi psikososial warga yang kian melemah,” kata Erma, kepada Kompas.com, Selasa .Erma menegaskan, pada kondisi bencana sebelumnya di Aceh, Sumut, dan Sumbar, sejumlah lokasi terdampak banjir bandang tidak lagi layak dihuni.Tingginya sedimentasi lumpur akibat penanganan yang lamban berdampak pada perubahan morfologi sungai, hingga hilangnya daya dukung lingkungan membuat rekonstruksi di titik semula hampir mustahil dilakukan.“Kalau daerah itu memang sudah sulit dipulihkan, maka relokasi harus menjadi opsi yang serius,” tegas dia.Baca juga: Pelajaran Mahal dari Siklon Tropis: Mitigasi Bencana Harus DiperkuatBRIN, menurut Erma, telah melakukan kajian di Daerah Aliran Sungai (DAS) Pesangan, salah satu wilayah terdampak paling parah.Hasil pengukuran menunjukkan penurunan tutupan hutan mencapai 30 persen pada periode 2006–2015 di kawasan hulu.Angka itu muncul jauh sebelum bencana besar 2025 terjadi.“Kalau diasumsikan tren itu linier, maka penurunan tutupan hutan pada 2025 mungkin sudah menyentuh 60 persen. Pada 2015 saja, ketika banjir bandang sudah mulai terjadi, hutan di hulu sudah berkurang 30 persen,” kata Erma.
(prf/ega)
Waspada Badai Siklon, Jangan Jatuh di Lubang yang Sama
2026-01-12 11:46:42
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 12:13
| 2026-01-12 12:05
| 2026-01-12 11:51
| 2026-01-12 11:28
| 2026-01-12 11:19










































