Gerakan Rakyat dan Teka-teki Kendaraan Politik Anies Baswedan

2026-01-12 16:52:40
Gerakan Rakyat dan Teka-teki Kendaraan Politik Anies Baswedan
LANGKAH politik Anies Baswedan pasca-Pilpres 2024 sepertinya belum akan berhenti pada titik jeda yang panjang karena dinamika terus berjalan.Baru-baru ini, publik kembali disuguhkan manuver menarik dengan peluncuran Kartu Tanda Anggota atau KTA ormas Gerakan Rakyat. Anies menerima kartu bernomor 0001 sebagai simbol kehormatan sekaligus komando tertinggi. Peristiwa ini bukan sekadar seremonial belaka, melainkan sinyal politik yang sangat terang benderang bagi siapa saja yang terbiasa membaca gerak-gerik elite kita.Anies tampaknya sedang merawat stamina politiknya serta memastikan bahwa mesin yang sempat panas di 2024, tidak menjadi dingin dan berkarat begitu saja.Fenomena peluncuran KTA ini mengingatkan kita bahwa dalam politik Indonesia tidak ada istilah pensiun bagi figur yang masih memiliki political efficacy tinggi di mata publik.Gerakan Rakyat yang kini dikomandoi oleh Sahrin Hamid selaku orang kepercayaan Anies tampak bukan sekadar paguyuban relawan biasa yang timbul tenggelam mengikuti musim pemilu.Ada keseriusan tata kelola yang terlihat dari bagaimana mereka memformalkan keanggotaan melalui sistem KTA yang rapi dan terdata dengan baik.Ini merupakan langkah awal dari apa yang dalam ilmu politik sering kita sebut sebagai institutionalization atau pelembagaan dukungan yang sebelumnya cair dan tak berbentuk.Baca juga: Republik Alergi DiskusiSaya melihat ada upaya sistematis untuk mengubah kerumunan atau crowd menjadi barisan alias movement yang terorganisir lewat instrumen ormas ini.Biasanya relawan pasca-Pilpres akan membubarkan diri atau kembali ke aktivitas masing-masing. Namun, Gerakan Rakyat justru melakukan konsolidasi internal yang agresif.Anies sepertinya sadar betul bahwa modal sosial yang ia raih sekitar 40,9 juta suara di Pilpres 2024 lalu, merupakan aset yang terlalu mahal untuk dibiarkan menguap tanpa wadah.KTA ini adalah cara mengikat loyalitas itu agar tetap nyata dan bisa dikapitalisasi kapan saja diperlukan.Pertanyaannya kemudian, apakah ini sekadar ormas sosial ataukah embrio partai politik baru yang sedang disiapkan untuk 2029 mendatang?Aroma politiknya tentu jauh lebih menyengat daripada aroma sosialnya mengingat figur-figur yang terlibat di dalamnya adalah operator politik yang sudah makan asam garam.Infrastruktur yang dibangun pun tidak main-main. Data lapangan menunjukkan kepengurusan Gerakan Rakyat sudah terbentuk di hampir seluruh provinsi dan merata hingga tingkat kabupaten/kota.Kecepatan pembentukan struktur ini mustahil terjadi secara organik tanpa adanya desain top-down yang matang dan dukungan logistik yang memadai.Jika kita menengok ke belakang, sejarah politik modern Indonesia mencatat pola yang nyaris serupa pada kelahiran Partai NasDem.Dulu, Surya Paloh mendirikan Nasional Demokrat sebagai ormas lalu mengumpulkan tokoh-tokoh bangsa lintas latar belakang dengan narasi Restorasi Indonesia yang memikat.Menariknya, Anies Baswedan merupakan salah satu deklarator ormas Nasional Demokrat kala itu dan membacakan manifesto dengan gaya retorika yang khas.Artinya, Anies bukan orang baru dalam skema ormasisasi politik karena ia memiliki memori institusional tentang bagaimana ormas bisa bermetamorfosis menjadi partai politik yang lolos ke Senayan.Pola ini sebenarnya adalah strategi inkubasi yang cerdas untuk menguji ombak atau testing the water sebelum benar-benar terjun ke lautan regulasi partai politik yang ganas.Mendirikan partai politik di Indonesia hari ini, membutuhkan biaya yang astronomis dan syarat verifikasi administrasi serta faktual yang sangat berat dari KPU.Baca juga: OTT Kepala Daerah: Terus Menangkap atau Mulai Mencegah?Melalui baju ormas, maka Gerakan Rakyat bisa leluasa bermanuver dan menggalang massa serta melakukan kegiatan politik tanpa terikat aturan ketat UU Partai Politik atau pengawasan Bawaslu di luar masa kampanye.Kendati demikian, saya meragukan jika Gerakan Rakyat hanya akan berhenti sebagai ormas selamanya mengingat infrastrukturnya yang didesain layaknya struktur partai.Ada Badan Politik dan Badan Hukum hingga sayap-sayap organisasi yang nomenklaturnya sangat mirip dengan departemen dalam kepengurusan partai politik modern.Struktur yang gemuk dan hierarkis ini menunjukkan mereka sedang mempersiapkan mesin perang dan bukan sekadar yayasan amal yang membagikan sembako.Bagi seorang analis, fenomena ini terlihat seperti shadow party alias partai bayangan yang sedang menunggu momentum yang tepat untuk mendeklarasikan diri secara formal.


(prf/ega)