NAYPYIDAW, – Myanmar menggelar pemilu nasional pertamanya sejak kudeta militer 2021 pada Minggu , namun suasananya jauh dari euforia demokrasi.Di sejumlah wilayah, partisipasi pemilih terlihat rendah, dengan banyak warga memilih tidak menggunakan hak suara karena meragukan legitimasi dan dampak pemilu tersebut.Bagi sebagian masyarakat, pemilu kali ini dipandang sekadar formalitas politik di tengah konflik berkepanjangan dan kekuasaan militer yang masih dominan.Baca juga: Pemilu Myanmar Berlangsung di Tengah Perang Saudara, Apa yang Perlu Diketahui?LILLIAN SUWANRUMPHA/AFP Para pemilih mengantre di dalam tempat pemungutan suara selama fase pertama pemilihan umum Myanmar di Yangon pada 28 Desember 2025. Pemilik galeri seni, Su Htwe, masih ingat betul pengorbanannya saat pemilu 2020. Meski baru menjalani operasi caesar dan bayinya dirawat intensif, ia tetap datang ke tempat pemungutan suara. Namun, lima tahun berselang, sikapnya berubah total.“Kami tidak percaya pemilu ini bisa mengubah negara. Kami sama sekali tidak mengakui ini sebagai pemilu yang adil. Ini bukan pemilu yang sesungguhnya,” ujar perempuan 33 tahun itu.Ia menegaskan, anggota keluarga dekatnya juga memilih untuk tidak memberikan suara.Pemungutan suara pada 28 Desember dilaporkan berlangsung relatif lancar di sejumlah lokasi, tetapi kekhawatiran keamanan tetap mencuat.Laporan ledakan muncul di kota-kota seperti Mandalay dan Bago, serta di Myawaddy dekat perbatasan Thailand-Myanmar, menegaskan rapuhnya situasi keamanan di tengah bentrokan antara militer dan kelompok perlawanan.Pemerintah junta menyebut pemilu ini sebagai upaya mencari legitimasi dan pengakuan. Namun, pemungutan suara hanya dilakukan di 265 dari 330 wilayah administratif, di negara berpenduduk sekitar 50 juta jiwa.Banyak daerah berada di bawah kendali kelompok bersenjata etnis seperti Kachin Independence Army di utara dan Arakan Army di negara bagian Rakhine, serta wilayah yang dikuasai pasukan perlawanan sipil.Baca juga: Myanmar Gelar Pemilu Perdana dalam 5 Tahun Kudeta, Tak Ada OposisiUntuk pertama kalinya, pemilu digelar dalam tiga tahap. Tahap pertama pada 28 Desember mencakup 102 wilayah.Sekitar 100 wilayah lainnya dijadwalkan memilih pada 11 Januari, dan sisanya pada 25 Januari. Hasil pemilu baru akan diumumkan setelah seluruh tahapan selesai.Di sebuah TPS dekat Pagoda Sule, Yangon, sejumlah pemilih mengatakan, mereka datang mencoblos bukan karena antusiasme, melainkan rasa terpaksa.
(prf/ega)
Suasana Pemilu Pertama Myanmar sejak Kudeta, Warga Ogah-ogahan Mencoblos
2026-01-11 03:36:53
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 02:42
| 2026-01-11 02:10
| 2026-01-11 01:24
| 2026-01-11 01:20










































