PURWOKERTO, - Firda Candraningtyas, guru KB dan TK Sekolah 3 Bahasa Putera Harapan (Puhua School) Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, berbagi cerita mengenai diskriminasi yang pernah dialami terkait identitas keagamaannya.Pengalaman itu dialami Firda sebelum bergabung dengan Puhua School.Perempuan asal Mojokerto tersebut sempat melamar ke sejumlah sekolah swasta berlabel internasional di Surabaya dan Jakarta.Namun, pertanyaan pertama yang kerap dia terima justru berkaitan dengan hijab yang dikenakannya."Ternyata itu adalah ketentuan di sana bahwa tidak ada yang memakai benda atau simbol agama. Di beberapa sekolah saya temui demikian," kata Firda saat Kunjungan dan Diskusi Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) di Puhua School, Kamis .Baca juga: Tragedi di Sekolah Internasional Gading Serpong, Siswa Tewas Usai Jatuh dari GedungFirda mengaku terkejut dengan kebijakan tersebut karena mengharuskannya melepaskan identitas keagamaannya.Ia akhirnya memilih mundur dari proses seleksi karena merasa diperlakukan tidak adil.Padahal, saat menempuh pendidikan di Tiongkok, Firda menyebut dirinya bebas mengenakan jilbab tanpa mengalami perlakuan diskriminatif."Saya baru merasakan menjadi minoritas yang mengalami ketidakadilan. Sedangkan saat saya belajar di Tiongkok saja, itu tidak ada masalah dengan yang namanya mengenakan kerudung," ujarnya.Firda kemudian bergabung dengan Puhua School, tempat ia merasa diterima dan dihargai. Menurutnya, sekolah tersebut mencerminkan keberagaman dan menghormati perbedaan.Di Puhua School, siswa, guru, maupun karyawan diperbolehkan mengenakan jilbab, kalung salib, atau simbol agama lainnya."Di sini dibebaskan untuk siswa, guru ataupun karyawan memakai jilbab, memakai kalung salib ataupun simbol agama lainnya," kata Firda.Baca juga: Rekrutmen di RS Medistra Diduga Tanya Kesediaan Calon Nakes Lepas Hijab, Fahira Idris: Pelanggaran SeriusSekolah tersebut juga memfasilitasi pelajaran agama untuk seluruh siswa, termasuk mereka yang menganut agama minoritas.Firda berharap ke depan semakin banyak sekolah swasta yang menerapkan kebijakan inklusif seperti yang dilakukan Puhua School. Ia menilai sekolah seharusnya mencerminkan keberagaman Indonesia."Saya sangat berharap banyak sekolah swasta lain yang menerapkan tiga bahasa, seragam sama seperti apa yang ada di Puhua School," ujarnya.
(prf/ega)
Curhat Guru di Purwokerto, Diminta Lepas Hijab saat Melamar di Sekolah Swasta Berlabel Internasional
2026-01-13 07:01:15
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-13 07:02
| 2026-01-13 06:44
| 2026-01-13 06:38
| 2026-01-13 05:14
| 2026-01-13 05:00










































