Psikolog: Trauma Korban Banjir Aceh Lebih Berat dari Tsunami 2004

2026-01-11 03:39:53
Psikolog: Trauma Korban Banjir Aceh Lebih Berat dari Tsunami 2004
– Psikolog Klinis di RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh sekaligus EMDR Asia Accredited Trainer & Consultant, Yulia Direzkia, M.Si., menilai dampak psikologis banjir bandang yang melanda Aceh dan sejumlah wilayah Sumatera pada 2025 berpotensi lebih berat dibandingkan trauma tsunami Aceh 2004.Penilaian tersebut didasarkan pada kondisi penyintas yang hingga kini masih hidup dalam ketidakpastian, dengan kebutuhan dasar yang belum sepenuhnya terpenuhi dan wilayah terdampak yang tersebar luas.Baca juga: Bendera Putih Berkibar di Aceh, Apa Artinya dan Bagaimana Pemerintah Merespons?Menurut Yulia, bencana banjir tahun ini tidak dapat dibandingkan secara langsung dengan tsunami Aceh 2004 karena karakteristik wilayah dan distribusi dampaknya sangat berbeda.“Tsunami 2004 terkonsentrasi di Banda Aceh dan Meulaboh, sehingga koordinasi bantuan lebih mudah. Sementara itu, bencana saat ini tersebar di banyak kabupaten dengan tantangan yang berbeda-beda,” ungkap Yulia ketika dihubungi Kompas.com, Selasa .Ia menambahkan, banyak wilayah masih terisolasi dan belum sepenuhnya tersentuh bantuan, sehingga memperlambat proses pemulihan mental para korban.“Dampak psikologisnya pun saya lihat lebih berat karena hingga kini kebutuhan dasar belum sepenuhnya terpenuhi,” tambahnya.Yulia menegaskan bahwa dalam kondisi darurat yang berlangsung lama, hampir tidak mungkin penyintas tidak mengalami tekanan psikologis.“Bencana ini sudah berlangsung lebih dari tiga minggu, dan di beberapa wilayah seperti Aceh Tamiang dan Bener Meriah masih ada daerah yang terisolasi dan bahkan belum terpenuhi kebutuhan dasarnya. Dalam kondisi seperti itu, hampir tidak mungkin bagi seseorang untuk tidak mengalami stres,” ungkap Yulia.Tekanan mental tersebut diperparah oleh kehilangan berlapis yang dialami korban, mulai dari rumah, mata pencaharian, hingga lingkungan hidup yang hilang total.“Ada warga yang sudah tidak bisa lagi menunjukkan di mana rumahnya dulu berdiri karena wilayah tersebut telah tersapu banjir dan lumpur. Kehilangan seperti itu sangat berat secara psikologis,” jelasnya.Yulia menjelaskan bahwa manusia sebenarnya memiliki kemampuan alami untuk pulih dari trauma, tetapi mekanisme tersebut sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan.“Dalam waktu sekitar satu bulan setelah peristiwa traumatis, seseorang masih mampu mengaktifkan mekanisme pemulihan diri, asalkan kebutuhan dasarnya terpenuhi,” jelas Yulia.Sebaliknya, kondisi darurat yang berkepanjangan tanpa kepastian pemenuhan kebutuhan dasar justru meningkatkan risiko gangguan psikologis yang lebih berat.Tangkapan layar video warga Sejumlah pemukiman warga di Kabupaten Pidie Jaya (Pijay), Provinsi Aceh, kembali terendam banjir.Berdasarkan pengalamannya selama lebih dari 20 tahun menangani penyintas konflik dan bencana, Yulia menekankan bahwa trauma tidak selalu muncul secara langsung.“Saya banyak menemui kasus delayed onset PTSD, di mana gejala baru muncul 10 hingga 20 tahun setelah peristiwa traumatis, sering kali dalam bentuk depresi atau keinginan bunuh diri,” ungkap Yulia.


(prf/ega)