JAKARTA, – Pelabuhan bersejarah Sunda Kelapa di Ancol, Pademangan, Jakarta Utara, masih menjadi tumpuan hidup banyak orang hingga kini.Selain memiliki nilai penting dalam sejarah perdagangan dunia, kawasan ini tetap berfungsi sebagai lokasi bongkar muat dan sandar kapal, sekaligus destinasi wisata. Namun, aktivitas para buruh sering kali terganggu oleh banjir rob yang muncul pada periode tertentu.Pelabuhan Sunda Kelapa pada abad ke-14 hingga ke-16 menjadi gerbang utama perdagangan dunia. Para pedagang dari berbagai negara seperti Tiongkok, India, Eropa Timur, dan lainnya bertemu di pelabuhan ini untuk melakukan transaksi jual beli.Baca juga: Rob Menyergap Pelabuhan Sunda Kelapa, Aktivitas Bongkar Muat Tak Lagi LancarSampai saat ini, Pelabuhan Sunda Kelapa masih eksis sebagai tempat bersandarnya kapal dan lokasi bongkar muat peti kemas.Memiliki nilai sejarah membuat Pelabuhan Sunda Kelapa sering didatangi wisatawan baik dari dalam negeri maupun mancanegara.Hal itu pula yang membuat Pelabuhan Sunda Kelapa tak lekang oleh zaman hingga saat ini.Masih terus eksis, membuat banyak orang tetap menggantungkan hidupnya di Pelabuhan Sunda Kelapa setiap hari.Salah satunya Tarso (45), yang bekerja sebagai buruh bongkar muat kapal dan peti kemas di Pelabuhan Sunda Kelapa selama 25 tahun.Tarso harus menjalankan peran ganda sebagai ibu dan ayah untuk kedua anaknya karena istrinya sudah meninggal lebih dulu.Pendapatan menjadi buruh di Pelabuhan Sunda Kelapa menjadi satu-satunya harapan Tarso untuk menghidupi kedua buah hatinya yang masih sekolah di bangku SMP.Baca juga: Genangan Abadi di Sunda Kelapa, Pelabuhan Bersejarah yang Terus Dihantui Banjir RobDalam satu hari, bapak dua anak itu bisa mendapatkan uang sekitar Rp 300.000–500.000 dari bongkar muat barang lebih dari dua kapal.Biasanya, uang itu ia gunakan untuk makan keluarganya sehari-hari, biaya sekolah anak, dan membayar sewa kontrakan."Mengontrak Rp 300.000 per bulan, terus terang saja saya cuma tinggal sama anak doang istrinya meninggal sudah 10 tahun lebih," kata Tarso kepada Kompas.com, Selasa .Kontrakan yang terbuat dari bangunan semi permanen dan berukuran sekitar 3x5 meter menjadi satu-satunya tempat berlindung Tarso dan kedua anaknya dari panas dan hujan.Meski begitu, ia tetap bersyukur karena pendapatannya sebagai buruh masih bisa memenuhi kebutuhan kedua anaknya.
(prf/ega)
Saat Banjir Rob Lumpuhkan Aktivitas Buruh Bongkar Muat di Pelabuhan Sunda Kelapa
2026-01-12 03:01:30
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 02:47
| 2026-01-12 02:28
| 2026-01-12 01:45
| 2026-01-12 01:15










































