Tiga Pekan Gelap, Wali Kota Banda Aceh Illiza Kritik PLN soal Pemadaman Berkepanjangan

2026-01-12 19:22:59
Tiga Pekan Gelap, Wali Kota Banda Aceh Illiza Kritik PLN soal Pemadaman Berkepanjangan
BANDA ACEH, - Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal meluapkan emosinya terhadap PT PLN (Persero) karena kondisi listrik di wilayahnya hingga kini belum juga pulih.Illiza mengatakan, masyarakat di pusat ibu kota Provinsi Aceh itu sudah lebih dari tiga pekan tidur dalam kondisi gelap dan menunggu solusi yang tak kunjung pasti."PLN harus berhenti bekerja dalam senyap. Publik membutuhkan penjelasan terbuka, peta kerusakan, dan tenggat waktu pemulihan yang jelas, bukan komunikasi sepihak," kata Illiza kepada Kompas.com, Selasa .Ia menyebutkan, dirinya telah melihat langsung kondisi masyarakat serta pelaku usaha yang terdampak akibat pemadaman listrik berkepanjangan.Baca juga: Pekan Ketiga Pascabanjir, Layanan Publik dan Sekolah di Aceh Utara Masih Lumpuh"PLN tidak bisa terus berlindung di balik alasan teknis tanpa transparansi. Masyarakat Banda Aceh berhak atas kepastian waktu pemulihan listrik, bukan janji tanpa kejelasan," ujarnya.Illiza mengaku sudah beberapa kali berkomunikasi langsung dengan pihak PLN untuk menanyakan perkembangan pemulihan listrik di Banda Aceh."Kita tidak ingin krisis energi berlarut-larut di Banda Aceh," tegasnya.Pantauan Kompas.com, hingga saat ini kondisi listrik di wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar masih padam. Meski demikian, sebagian daerah mulai menyala secara bergilir dengan durasi yang tidak terlalu lama./Iwan Bahagia Puluhan warga Aceh Tengah harus merasakan kegelapan malam karena aliran listrik sejak Senin sore.Pemadaman listrik berkepanjangan tersebut berdampak pada dunia usaha. Sejumlah warung nasi terpaksa tutup, sementara pelaku usaha yang masih beroperasi harus mengeluarkan biaya operasional tambahan untuk penggunaan generator set.Putra, barista di Warkop Sirnagalih, mengaku harus mengubah cara beroperasi agar tetap bisa melayani pelanggan. Untuk menjaga kopi tetap panas, ia tidak lagi menggunakan gas elpiji, melainkan minyak lampu untuk menyalakan api.Selain itu, pihak warkop juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli minyak agar genset tetap menyala demi penerangan."Selama ini biaya operasional yang kita keluarkan sedikit lebih banyak dari biayanya, karena kita harus membeli minyak genset dan juga minyak lampu," katanya.Kondisi serupa juga dirasakan Siti, pembuat kue rumahan di Banda Aceh. Selama listrik padam dan elpiji langka, usahanya terancam gulung tikar."Pesanan kue ada, tapi enggak bisa kita buat. Selama ini memang tidak ada pemasukan sama sekali," ujarnya.Baca juga: PKS Heran: Listrik Aceh Tamiang Nyala Saat Prabowo Datang, Mati Setelah Kunjungan Usai


(prf/ega)