Tersangka dari Balai Kota

2026-02-02 19:56:51
Tersangka dari Balai Kota
TIDAK ada guncangan yang lebih menyakitkan bagi sebuah kota selain melihat salah satu pemimpinnya duduk di hadapan jaksa sebagai tersangka. Bandung kini berada dalam momen itu.Erwin, seorang Wakil Wali Kota—yang baru beberapa bulan lalu dilantik dengan segala harapan publik—harus menghadapi kenyataan pahit: status sebagai tersangka tindak pidana korupsi. Tentu, asas praduga tak bersalah harus dijunjung tinggi. Namun, publik tak mungkin menutup mata. Setiap jabatan publik membawa martabat, dan martabat itu tengah tercabik.Penetapan tersangka bukan sekadar proses hukum. Ia adalah peristiwa politik, etika, dan psikologis.Ketika seorang pejabat pemerintah daerah—yang menandatangani kebijakan, memimpin rapat, dan menjadi wajah kota—diciduk dalam perkara penyalahgunaan kewenangan, itu berarti dua hal: kerapuhan sistem pengawasan, dan etos jabatan yang runtuh.Dalam konteks Bandung, guncangan ini terasa lebih dalam karena kota ini telah berkali-kali terseret pusaran kasus korupsi pejabat publik. Luka lama seakan terbuka kembali.Bandung bukan kota kecil. Ia kota besar dengan kompleksitas sosial, ekonomi, dan politik yang terus bergerak.Baca juga: OTT Kepala Daerah Tak Pernah UsaiKetika pejabat di puncak pemerintahan diduga bermain kuasa dalam pengadaan dan jabatan, publik akan bertanya: apa yang sebenarnya terjadi di balik dinding Balai Kota?Siapa yang menjaga etika kekuasaan di sana? Dan mengapa korupsi di level pemerintah daerah tak kunjung berhenti?Wewenang adalah anugerah sekaligus ujian. Dalam sistem pemerintahan daerah, seorang wakil wali kota bukan sekadar pendamping. Ia pejabat negara yang memegang sebagian fungsi eksekutif dan menjadi bagian dari sistem pelayanan publik.Namun, sering kali wewenang itu dijadikan tiket menuju kekuasaan informal: penunjukan pejabat, akses proyek, dan jaringan politik yang dipelihara lewat kompromi.Perkara yang kini menjerat Wakil Wali Kota Bandung berakar dari isu penyalahgunaan kewenangan—pola lama yang terus berulang dalam politik daerah.Ketika proyek, jabatan, dan pengaruh menjadi alat tawar, maka lahirlah pasar gelap kekuasaan. Semua terjadi di lorong-lorong gelap birokrasi yang terlalu lebar celahnya dan terlalu lemah pengawasannya.Padahal, Undang-Undang Pemerintahan Daerah telah memberikan batas-batas yang jelas. Setiap pejabat publik wajib menghindari konflik kepentingan.ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Bandung Irfan Wibowo (tengah) menyampaikan penetapan tersangka dugaan tindak pidana korupsi kepada awak media di Kantor Kejari, Bandung, Jawa Barat, Rabu . Kejari Kota Bandung menetapkan Wakil Wali Kota Bandung Erwin dan Anggota DPRD periode 2024-2029 Rendiana Awangga sebagai tersangka atas dugaan kasus tindak pidana korupsi penyalahgunaan kewenangan di lingkungan Pemerintah Kota Bandung. Setiap intervensi terhadap proses pengadaan barang dan jasa, sekecil apa pun, dapat berubah menjadi tindak pidana korupsi ketika diiringi niat menguntungkan diri atau kelompok.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Dilansir dari Kompas.com, Senin , cabang bulu tangkis kembali menegaskan statusnya sebagai lumbung medali bagi Indonesia dengan menyumbangkan dua emas di SEA Games 2025.Pada nomor tunggal putra, Alwi Farhan keluar sebagai juara setelah melewati duel sengit melawan rekan senegara, Moh Zaki Ubaidillah.Laga final yang berlangsung selama lebih dari satu jam itu harus ditentukan lewat tiga gim, dengan Alwi akhirnya memastikan kemenangan.Keberhasilan Indonesia berlanjut di sektor ganda putra.Pasangan Sabar Karyaman Gutama/Moh Reza Pahlevi Isfahani tampil solid di partai puncak dan menundukkan wakil Malaysia, Aaron Chia/Soh Wooi Yik.Kemenangan dua gim langsung memastikan medali emas sekaligus memperkuat posisi Indonesia di papan klasemen.Sementara ganda putri Febriana Dwipuji Kusuma/Meilysa Trias Puspitasari menyumbang perunggu.Dari cabang wushu, Edgar Xavier Marvelo menutup kiprahnya di SEA Games dengan manis setelah meraih emas nomor taolu gabungan Chang Quan, Dao Shu, dan Gun Shu.Baca juga: Timnas U22 Indonesia Jadi Sorotan Media Vietnam Usai Gagal ke Semifinal SEA Games 2025Cabang atletik menjadi kontributor utama medali emas Indonesia pada hari pertandingan tersebut dengan total empat keping emas.Hendro Yap kembali menunjukkan konsistensinya dengan finis terdepan di nomor jalan cepat 20 kilometer putra, meninggalkan pesaing terdekatnya dari Myanmar.Dominasi Indonesia di nomor jalan cepat berlanjut lewat Violine Intan Puspita yang menjadi terbaik di sektor putri.Dari nomor maraton, Robi Syianturi tampil sebagai yang tercepat di kategori putra.Sementara itu, Odekta Elvina Naibaho kembali menegaskan reputasinya sebagai ratu maraton Asia Tenggara dengan meraih emas di nomor putri.Baca juga: Ratu Thailand Wakili Negaranya dalam SEA Games 2025, Cabor Apa?Tambahan medali emas Indonesia juga datang dari cabang skateboard nomor street.Hutomo Basral Graito tampil impresif sepanjang perlombaan dan menutup kompetisi dengan raihan skor tertinggi.Ia sukses mengungguli atlet tuan rumah serta pesaing lainnya, sekaligus melengkapi deretan emas Indonesia dari berbagai cabang olahraga di SEA Games 2025.(Sumber: Kompas.com/ Penulis: Yudha Riefwan Najib)sumber:https://sumut.antaranews.com/berita/648835/klasemen-medali-sea-games-2025-indonesia-kokoh-di-peringkat-kedua

| 2026-02-02 19:04