Perjalanan Gereja Katolik Tertua di Semarang dan Jejak Sunyi Pejuang Kemerdekaan

2026-01-13 13:45:09
Perjalanan Gereja Katolik Tertua di Semarang dan Jejak Sunyi Pejuang Kemerdekaan
SEMARANG, – Gereja Paroki Santo Yosef Gedangan di Kota Lama Semarang bukan sekadar bangunan ibadah, tetapi juga menjadi saksi perjuangan kemerdekaan Indonesia dengan melindungi pejuang Republik Indonesia pada 1945.Gereja yang terletak di Jalan Ronggowarsito itu berdiri di tengah kawasan Kota Lama Semarang dan telah berusia lebih dari satu abad.Bangunan ini menyimpan kisah penting dalam sejarah kota sekaligus masa awal kemerdekaan Indonesia.Berdasarkan catatan sejarah, Gereja Gedangan dibangun pada rentang 1870 hingga 1875. Gereja ini dikenal sebagai gereja Katolik tertua di Kota Semarang.Baca juga: Khidmatnya Misa Requiem Paus Fransiskus di Gereja Santo Yusup Gedangan Semarang Keberadaan Gereja Gedangan juga erat kaitannya dengan tokoh nasionalis sekaligus pemimpin Gereja Katolik Indonesia, Monsinyur Albertus Soegijapranata.Pemerhati Sejarah Kota Semarang, Johanes Christiono, mengungkapkan Gereja Gedangan tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga pernah menjadi tempat persembunyian pejuang kemerdekaan.“Banyak pejuang yang bersembunyi di sana, masuk lewat pintu belakang gereja,” ujar Johanes kepada Kompas.com, Selasa .Peristiwa itu terjadi saat Perang Lima Hari di Semarang pada 15–19 Oktober 1945.Kala itu, situasi kota mencekam karena pejuang Republik Indonesia dikejar tentara Jepang yang masih bersenjata meski Jepang telah kalah dalam Perang Dunia II.Baca juga: Gereja Katolik Tertua di Kota Semarang Itu Bernama Gereja Gedangan...Dalam kondisi terdesak, Gereja Gedangan menjadi salah satu tempat perlindungan. Saat itu, gereja dipimpin oleh Monsinyur Albertus Soegijapranata yang menentukan sikap politiknya.“Monsinyur Soegijapranata memutuskan untuk memihak Republik Indonesia,” kata Johanes.Keputusan tersebut membuat para pejuang merasa aman berlindung di lingkungan gereja.Johanes menjelaskan, posisi Gereja Katolik yang memiliki jaringan internasional diduga turut memengaruhi sikap tentara Jepang.“Jepang saat itu sudah kalah perang. Gereja Katolik juga punya dukungan dari luar negeri,” jelasnya.Akibatnya, pasukan Jepang tidak berani memasuki area Gereja Gedangan meski mengetahui ada pejuang kemerdekaan yang bersembunyi di dalamnya.Johanes menambahkan, hingga kini tidak ada catatan resmi yang menjelaskan alasan pasti Jepang menghindari gereja tersebut.“Ada dugaan mereka tidak masuk karena gereja itu bukan interniran,” pungkasnya.


(prf/ega)