Bank Indonesia dan Harapan yang Ditenun di Tanah Batak

2026-01-12 18:32:56
Bank Indonesia dan Harapan yang Ditenun di Tanah Batak
TARUTUNG, - Bagi Pemerintah Indonesia, pemberdayaan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) adalah keniscayaan.Hal tersebut wajar karena sektor UMKM memiliki peran sentral dalam membangun perekonomian Tanah Air.Dilansir dari laman rri.com, UMKM disebut sebagai tulang punggung perekonomian Indonesia karena menyumbang sekitar 60 persen terhadap produk domestik bruto nasional dan menyerap hampir 97 persen tenaga kerja.Saat ini terdapat lebih dari 64 juta UMKM yang beroperasi di seluruh Indonesia.Melihat fakta itu, pemerintah pun bergerak mencari cara untuk memperkuat para pelaku usaha kecil di berbagai daerah.Salah satu lembaga yang aktif mendorong langkah tersebut adalah Bank Indonesia (BI) melalui berbagai program pembinaan dan pendampingan bagi UMKM di seluruh pelosok negeri.Dari sekian banyak UMKM binaan BI, cerita tentang Dame Ulos, UMKM asal Tarutung, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, menjadi salah satu yang menarik untuk disimak.Usaha yang tumbuh di Tanah Batak ini digagas oleh Renny Katrina Manurung pada 2014. Dame Ulos berawal dari keprihatinannya ketika melihat kain ulos yang kaya makna mulai dipandang sebelah mata, bahkan oleh masyarakatnya sendiri.Berbekal modal sekitar Rp 5 juta dan 10 penenun, Renny memulai usahanya di depan rumah. Produk pertama dijajakan dari satu tempat ke tempat lain, bahkan langsung ke pasar kebaya di Medan.“Dulu hanya ada lemari warisan nenek dan beberapa gantungan plastik. Namun, saya yakin, ulos punya nilai lebih dari sekadar kain,” ujar Renny saat bercerita kepada para wartawan, termasuk Kompas.com, Selasa .Perjalanan Dame Ulos mulai berubah ketika Renny berkenalan dengan tim Bank Indonesia Sibolga pada 2018.Setahun kemudian, Dame Ulos resmi menjadi UMKM binaan BI Sibolga. Sejak saat itu, dukungan yang diberikan membawa dampak besar bagi perkembangan usahanya.Melalui Program Sosial Bank Indonesia (PSBI), Dame Ulos mendapat fasilitas pembangunan galeri dua lantai lengkap dengan ruang pewarna alami.Tempat tersebut menjadi pusat edukasi dan destinasi wisata kreatif bagi pengunjung yang ingin melihat langsung proses tenun ulos.Selain itu, Renny dan tim juga menerima pelatihan digitalisasi dan e-commerce, program business matching, hingga pendampingan akses keuangan dan pemasaran.“Hasilnya terasa nyata. Sebelum menjadi binaan BI, omzet Dame Ulos masih berkisa Rp 500 juta hingga Rp 1 miliar per tahun. Kini, pada 2025, angkanya melonjak hingga mencapai Rp 19 miliar,” ucapnya.Pertumbuhan itu juga diikuti dampak sosial yang luas. Dari 10 penenun di awal berdirinya, kini lebih dari 200 perempuan aktif menenun bersama Dame Ulos.“Sebagian besar adalah ibu rumah tangga dari Tarutung dan sekitarnya. Mereka bekerja dengan sistem kemitraan yang adil. Bahkan, mereka tetap kami izinkan menenun dari luar daerah meski sudah ada yang tak di sini,” terang Renny.Dok. Kompas.com/Erlanggsa Satya Penenun Dame Ulos di Tarutung, Tapanuli Utara, sedang menyiapkan benang ulos di ruang galeri yang dibangun melalui Program Sosial Bank Indonesia. Galeri ini menjadi pusat edukasi dan wisata kreatif bagi pengunjung. Kini Dame Ulos tak hanya dikenal di pasar lokal, tetapi juga telah menembus pasar mancanegara seperti Amerika Serikat, Singapura, Malaysia, dan Australia.Lebih dari 80 persen penjualannya sudah berbasis digital melalui berbagai platform e-commerce dan media sosial. Namun bagi Renny, keberhasilan itu bukan semata soal angka.“Paling membahagiakan adalah melihat anak-anak muda mau kembali menenun. Dulu menenun dianggap pekerjaan orang tua, sekarang jadi kebanggaan,” tutur Renny.BerdayakanKampung Ulos HutarajaTak jauh dari geliat Dame Ulos, semangat serupa juga terasa di Kampung Ulos Hutaraja, Desa Lumban Suhi Suhi Toruan, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir.Wilayah yang telah lama dikenal sebagai sentra penenun tradisional ini kini menjelma menjadi kawasan wisata budaya yang hidup.Menurut Kepala Desa Lumban Suhi Suhi Toruan Rajasondang Simarmata, dulu, Kampung Ulos Hutaraja hanyalah kawasan penenun tradisional yang sepi dan belum tertata.Aktivitas menenun dilakukan hanya untuk sekadar kebutuhan keluarga tanpa didukung dengan infrastruktur ataupun sistem penjualan yang terorganisasi.Perubahan besar mulai terjadi pada 2019 ketika BI masuk untuk memberikan pendampingan melakukan revitalisasi kawasan tersebut.Rumah adat diperbaiki, atap diganti, jalan ditata, dan dibangun galeri tenun serta coffee shop untuk menampung hasil karya masyarakat setempat.“Mereka (BI) masuk dan membuat kampung ini seakan hidup kembali. BI mendampingi kami menyediakan fasilitas, pelatihan, sampai galeri untuk menjual ulos. Jadi, setiap ulos hasil masyarakat itu langsung dikasih ke galeri untuk dijual. Harganya mulai dari Rp 300.000 sampai Rp 10 juta,” ujar, Rajasondang.Dok. Kompas.com/Erlanggsa Satya Deretan rumah adat Batak di Kampung Ulos Hutaraja, Kabupaten Samosir. Kawasan ini direvitalisasi BI dan kini menjadi destinasi wisata budaya berbasis tenun tradisional. Menurut Rajasondang, pendampingan tersebut membuat aktivitas ekonomi warga semakin tertata.Penjualan ulos kini terpusat di galeri bersama dengan sistem administrasi dan pencatatan yang transparan.Program ini juga menumbuhkan rasa percaya diri bagi masyarakat. Kini, lebih dari 400 penenun di desa tersebut, termasuk 50 penenun aktif di Kampung Ulos Hutaraja, mampu menjual hasil karya mereka kepada wisatawan lokal ataupun mancanegara.“Dulu hanya bertenun untuk kebutuhan keluarga. Sekarang hasilnya bisa dinikmati wisatawan dari berbagai negara,” kata Rajasondang.Kopi yang mengangkat martabat petaniSemangat pemberdayaan yang digulirkan Bank Indonesia tidak hanya dirasakan oleh para penenun ulos.Di dataran tinggi Lintong Nihuta, Kabupaten Humbang Hasundutan, semangat yang sama tumbuh melalui aroma kopi yang kini menembus pasar dunia.Ketua Koperasi Kopi Humbang Hasundutan Manat Samosir mengatakan, bahwa sejak lama masyarakat di sekitar Lintong sudah aktif menanam kopi sebagai sumber penghidupan.Namun, aktivitas budi daya saat itu masih dilakukan secara sederhana dan belum memiliki daya saing. Kondisi tersebut mulai berubah sejak Bank Indonesia hadir memberikan pendampingan pada 2020.Dok. Kompas.com/Erlanggsa Satya Petani Koperasi Kopi di Humbang Hasundutan sedang memproses biji kopi menggunakan mesin sortir. Melalui program itu, BI membantu koperasi dalam berbagai aspek, mulai dari pembibitan, penyediaan pupuk organik, alat pengolahan kopi, hingga mesin sortir warna (color sorter) untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas produksi.Dampaknya pun terasa nyata. Produktivitas petani meningkat signifikan, dari 600 kilogram menjadi 2,5 ton green bean per hektare per tahun atau naik lebih dari 300 persen.Kualitas yang semakin baik membuat kopi Arabika Lintong diminati berbagai negara, mulai dari Amerika Serikat, Jepang, Taiwan, hingga Tiongkok.Tahun ini, koperasi yang dipimpin Manat menandatangani kontrak ekspor 1.000 ton kopi Arabika Lintong senilai Rp 140 miliar dengan mitra di China.“Semua ini tidak lepas dari dukungan dan pendampingan Bank Indonesia. BI membantu kami tidak hanya dengan alat, tapi juga dengan pengetahuan,” kata Manat.Pendampingan juga mendorong koperasi untuk membangun sistem data petani yang lebih lengkap, mencakup lokasi kebun, koordinat lahan, dan kepemilikan tanah.Dengan sistem yang tertata, produksi kopi Humbang Hasundutan kini memenuhi standar keberlanjutan dan berhasil memperoleh sertifikasi Rainforest Alliance pada 2023.Mengangkat nilai kemenyanDi lereng Toba, aroma kemenyan telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sejak berabad-abad.Di wilayah Pollung, Humbang Hasundutan, semangat baru kini tumbuh lewat kehadiran Koperasi Timbo Benzoin Toba yang ingin mengembalikan kejayaan komoditas warisan leluhur tersebut.Selama ini, getah kemenyan hanya dijual mentah dengan harga sekitar Rp 250.000 per kilogram.Padahal, setelah diolah menjadi minyak atsiri, nilainya bisa berlipat ganda di pasar internasional.Melihat potensi besar sekaligus ketimpangan tersebut, para anggota koperasi mulai mengolah sendiri hasil hutan mereka menjadi minyak kemenyan yang bernilai tambah tinggi. Produk ini digunakan untuk bahan parfum, kosmetik, hingga farmasi.Dok. Kompas.com/Erlanggsa Satya Anggota Koperasi Timbo Benzoin Toba saat menunjukkan produk minyak atsiri dari getah kemenyan. Inovasi ini menjadi upaya generasi muda menjaga hutan dan meningkatkan nilai ekonomi warisan leluhur. “Selama ini, petani hanya menjual getah mentah dan keuntungannya kecil. Kami ingin mengubah itu dengan mengolah kemenyan menjadi minyak atsiri supaya nilainya meningkat,” ujar Bendahara Koperasi Timbo Benzoin Toba Jerry Lumbangaol.Jerry menambahkan, upaya ini bukan semata soal bisnis, melainkan juga wujud kepedulian terhadap kelestarian hutan."Kalau hutan rusak, kata dia, kemenyan tidak akan tumbuh. Jadi, kami berusaha menjaga hutan tetap hidup sambil meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.Meski belum menjadi binaan Bank Indonesia, langkah koperasi ini mulai menarik perhatian. BI melihat potensi besar dari semangat dan inovasi generasi muda di balik gerakan tersebut.Ke depan, diharapkan dukungan Bank Indonesia dapat memperkuat mereka dengan membuka akses pasar global, menghadirkan teknologi pengolahan yang lebih modern, dan membantu para petani kemenyan memperoleh manfaat yang sepadan dengan kerja keras mereka.Di balik perjuangan para penenun, petani kopi, dan pelaku usaha kecil di Sumatera Utara, tumbuh semangat untuk mandiri dan berkembang dari potensi yang mereka miliki sendiri.Semangat inilah yang terus dijaga oleh BI, bukan hanya melalui angka dan kebijakan moneter, tetapi juga lewat pendampingan nyata di lapangan.Sebagai pihak yang menaungi semua UMKM tersebut, Kepala Kantor Perwakilan BI Sibolga Riza Putera menegaskan bahwa pembangunan ekonomi daerah harus berangkat dari potensi lokal yang hidup di tengah masyarakat.“Kami percaya, ekonomi daerah akan berkelanjutan jika tumbuh dari akar yang dimiliki masyarakatnya sendiri. Peran BI adalah menyiram, merawat, dan membantu mereka tumbuh lebih kuat,” ujar Riza.Riza menambahkan, melalui berbagai program pembinaan, BI Sibolga telah mendampingi lebih dari 50 UMKM di 16 kabupaten dan kota.Dukungan tersebut mencakup peningkatan mutu produk, pelatihan digitalisasi, pengembangan akses pasar, hingga fasilitasi pameran di tingkat nasional dan internasional.Dok. Kompas.com/Erlanggsa Satya Kepala Kantor Perwakilan BI Sibolga Riza Putera saat mengenakan produk dari Dame Ulos Riza menilai, keberhasilan seperti yang ditunjukkan oleh Dame Ulos dan Koperasi Kopi Humbang Hasundutan menjadi bukti nyata bahwa UMKM dapat menjadi penggerak ekonomi yang tangguh.“Dari tangan-tangan kreatif inilah ekonomi daerah bertumbuh. Ketika mereka naik kelas, ekonomi kita ikut naik bersama,” tuturnya.


(prf/ega)